Guru Bangsa

Pendidikan Islam
RSS

Total Tayangan Halaman

IV SEJARAH KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Dedy Irawan Maesycoery

PENDAHULUAN
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam. Ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia, pengertian pendidikan Islam, masuk dan berkembangnya Islam di Aceh, dan pusat pengkajian Islam pada masa tiga kerajaan besar Islam di Aceh. pada abad ke-7 M. Namun yang pasti, hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah daerah Aceh. Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia.
Kegiatan pendidikan Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya Islam di Aceh. Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa perdagangan disebabkan oleh Islam merupakan agama yang siap pakai, asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan tulisan dan hapalan, kepandaian dalam penyembuhan dan pengajaran tentang moral. (Musrifah,2005: 20).
Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh tidak lepas dari pengaruh penguasa kerajaan serta peran ulama dan pujangga. Aceh menjadi pusat pengkajian Islam sejak zaman Sultan Malik Az-Zahir berkuasa, dengan adanya sistem pendidikan informal berupa halaqoh. Yang pada kelanjutannya menjadi sistem pendidikan formal. Dalam konteks inilah, pemakalah akan membahas tentang pusat pengkajian Islam pada masa Kerajaan Islam dengan membatasi wilayah bahasan di daerah Aceh, dengan batasan masalah.

PEMBAHASAN
A. LATAR BELAKANG KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Setelah mengalami masa kejayaan, umat Islam mengalami masa kemunduran dalam berbagai bidang. Hal ini dimulai dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Bagdad dan di Cordova.
Bagdad yang merupakan pusat kedaulatan Abbasiyah yang pertama kali dipimpin oleh Abu Abbas As Saffah, telah menguasai berbagai daerah yang ada dan memimpin daerah tersebut. Di bawah kekuasaan daulah Abbasiyah Islam mengalami kemajuan dalam berbagai bidang terutama dalam bidang pendidikan. Para pemimpin daulah Abbasiyah lebih memikirkan bidang pendidikan daripada daulah umayyah sebelumnya yang lebih focus pada bidang kemiliteran.
Daulah Abbasiyah sangat menonjol dalam bidang pendidikan pada masa kekhalifahan Al Makmun. Khalifah Al Makmun adalah seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan diatas segalanya dan dia juga selalu memikirkan agama Islam dengan ilmu pengetahuan tersebut. Dia berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan dan menerjemahkan buku-buku dari Yunani serta mengembangkan ilmu-ilmu dengan mendapatkan temuan baru. Filsafat Yunani yang bersifat rasional menjadikan Khalifah Al Makmun terpengaruh dan mengambil teologi Mu’tazilah menjadi teologi negara. Dalam masa itu, Islam menjadi Negara yang tak tertandingi dalam bidang pendidikan serta banyak memberikan sumbangan ilmu pengertahuan terhadap dunia.
Namun setelah silih bergantinya Khalifah, Islam mulai mengalami kemunduran terhadap bidang pendidikan. Hal ini juga berhubungan dengan keruntuhan daulah Abbasiyah sebagai suatu kedaulatan yang besar. Terjadinya jurang pemisah antara kekhalifahan dan komunitas keagamaan terutama dalam hal “ kemakhlukan Al Qur’an “ yang membuat terjadinya perselisihan antara beberapa kelompok. Kelompok yang satu mengatakan bahwa Al Qur’an itu adalah amkhluk yang diciptakan oleh Allah dan kelompok yang satu lagi menyatakan bahwa Al Qur’an merupakan Kalam Allah, bukan makhluk.
Hancurnya Islam pada masa daulah Abbasiyah dapat dikelompokkan menjadi faktor intern dan faktor ekstern.
Dalam bidang intern yaitu:
1. Adanya persaingan tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam daulah Abbasiyah terutama Arab, Prsia dan Turki
2. Adanya konflik aliran pemikiran dalam Islam yang sering menyebabkan timbulnya konflik berdarah
3. Munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat di Bagdad. Dikarenakan lemahnya penerus khalifah selanjutnya maka banyak kerajaan-kerajaan kecil yang memberontak terhadap daulah Abbasiyah dan ingin membentuk dinasti sendiri.
4. Kemerosotan ekonomi akibat kemunduran politik. Pada awalnya daulah Abbasiyah adalah suatu kerajaan yang kaya akan harta, tetapi dikarenakan penerus khalifah berikutnya terbiasa bermewah-mewah sehingga keuangan menjadi terbuang sia-sia tanpa digunakan untuk hal yang berguna.
5. luasnya wilayah kekuasaan. Untuk mengatur daerah kekuasaan yang luas ini, diperlukan rasa saling percaya antar penguasa dan bawahannya. Tapi pada masa-masa akhir daulah Abbasiyah, kepercayaan inilah yang hilang diantara mereka.
6. dominasi militer. Pada masa khalifah al Mu’tasim, banyak direkrut jajaran militer dari budak-budak Turki. Dan ada sebagian dari mereka yang diangkat menjadi gubernur untuk memimpin suatu daerah. Namun, pada kelanjutannya mereka secara perlahan mengendalikan pemerintahan. Ini juga disebabkan pengauasa daulah yang lemahdan tidak mampu melawan mereka, sehingga memberi mereka kesempatan untuk mengatur pemerintahan.
Adapun dari bidang eksterennya adalah :
1. Perang salib yang terjadi dalam beberapa gelombang
2. Hadirnya tentara mongaol dibawah pimpinan Hulagu Khan, yang menghancurkan daulah Abbasiyah dan membakar seluruh buku-buku ilmu pengetahuan yanga ada di Bagdad
Sebab yang terakhir inilah yang menjadi puncak runtuhnya daulah Abbasiyah di Bagdad serta mundurnya bidang pendidikan lebih tampak nyata.
Sedangkan kemunduran di Cordova pada masa daulah Umayyah II. Daulah Umayyah II yang dipimpin pertama kali oleh Abdurrahman Ad Dakhil yang merupakan pelarian dari penguasa Abbasiyah. Puncak kekuasaan daulah Umayyah II terjadi pada masa pemerintahan Abdurrahman III dan Al Hkam. Kemajuan pada masa itu terlihat dalam berbagai bidang antara lain bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan intelektual. Di Cordova yang merupakan pusat daulah Umayyah II telah berdiri suatu universitas yang terpercaya dan mampu menandingi dua universitas besar lainnya, yaitu universitas Al Azhar di Kairo dan Nizamiyah di Bagdad. Universitas ini menarik banyak mahasiswa, baik mahasiswa kristen maupun mahasiswa dari negara Eropa lainya.
Setelah mencapai kemajuan da kesuksesan dalam berbagai bidang dan selama Pertemuan antara peradaban Arab Islam dengan peradaban masyarakat setempat menjadikan daerah itu pada masanya mempunyai kebudayaan Islam yang tinggi. Sehingga Spanyol menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam di daerah barat. Tetapi kemajuan tersebut ditentukan oleh penguasa yang memiliki sikap kuat dan berwibawa yang mampu mempersatuka Islam.
Beberapa abad menjadi kiblat ilmu engetahuan, akhirnya mencapai kemunduaran yang disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya yaitu :
1. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan yang menyebabkan munculnya munculnya perebutan kekuasaan diantara ahli waris
2. Lemahnya figur dan kharismatik yang dimiliki khalifah khususnya sesudah khalifah Al Hakam II. Khalifah hanyalah sebagai simbol saja, sedang pelaksanaan pemerintahannya dijalankan oleh Wazir
3. Perselisihan diantara umat Islam itu sendiri yang disebabkan perbedaan kepentingan atau karena perbedaan suku dan kelompok yang merupakan peluang bagi pihak kristen untuk memecah belah Islam
4. Konflik umat Islam dan kristen, kebijakan para penguasa Muslim yang tidak melakukan Islamisasi secara sempurna dan hanya diwajibkan membayar upeti pada penguasa Islam di Spanyol
5. Munculnya Muluk At Tawaif ( kerajaan-kerajaan kecil ) yang masing-masing saling berebut kekuasaan.

B. PENYEBAB KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Dengan runtuhnya kekuaan Islam di Bagdad dan di Cordova maka mulailah kemunduran pendidikan dan kebudayaan Islam. Dan kehancuran total yang dihadapi kota-kota pendidikan dan kebudayaan Islam yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi pendidikan Islam dan melemahnya pemikiran yang disebabkan antara lain :
1. Telah berlebihnya filsafat Islam ( yang bersifat Sufistik )
Kehidupan sufi berkembang dengan cepat. Keadaan umat yang frustasi menyebabkan kembali pada Tuhan dalam arti bersatu dengan tuhan, sebagaimana duiajarkan oleh para sufi. Di setiap Madrasah diajarkan tentang ajaran-ajaran sufisme, sehingga di dalam Madrasah hanya ada ilmu-ilmu agama sedangkan ilmu-ilmu lainnya tidak termasuk dalam pengajaran
2. Sedikitnya kurikulum Islam
Pada Madrasah-madrasah, pengajaran umumnya terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan, seperti ilmu-ilmu yang murni yaitu : Tafsir, Hadis, Fikih dan Ushul Fikih, Ilmu Kalam, dan Teologi Islam sudah mulai tertinggal karena penyempitan kurikulum pada masa itu. Pada beberapa Madrasah tertentu, Ilmu Klam dicurigai, yang lebih di fokuskan kepada ilmu yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan juga materi yang ada banyak sedangkan waktu yang diberikan untuk mempelajarinya hanya sedikit sehingga para pelajar tidak terlalu memahami suatu ilmu.
3. Tertutupnya pintu ijtihad
Dengan dikuranginya kebebsan berpendapat dan memikirkan sesuatu dengan akal, maka banyak para ahli tersebut hanya mengutip ijtihad para ahli sebelumnya tanpa menemukan pemecahan terbaru tentang hal-hal permasalahan yang sedang berkembang dari hasil pemikiran mereka. Sehingga timbul pernyataan yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

C. MASA KEMUNDURAN AGAMA ISLAM
Kehancuran total yang dialami oleh Baghdad sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan Islam kala itu, menandai runtuhnya sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan Islam.Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan dan semua buku-buku ilmu pengetahuan dari pusat pendidikan Islam tersebut, menyebabkan pula kemunduran pendidikan di seluruh dunia Islam terutama dalam bidang intelektual dan material, tetapi dalam kehidupan batin dan spiritual.
Adapun untuk lebih jelasnya, kami akan memaparkan kondisi pendidikan Islam pada masa ini:
a. Kurangnya perhatian para pemimpin (Khalifah) terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan ulama.Sehingga perkembangan intelektual agak tersendat-sendat Para pemimpin terlalu sibuk memikirkan pemerintahan. ,
b. Terbakarnya perpustakaan serta lembaga pendidikan yang ada, menyebabkan banyaknya khazanah intelektual Islam yang hilang dan hangus terbakar.
c. Suasana gelap dan mencekam yang dialami oleh dunia Islam benar-benar memprihatinkan.Dan pada saat yang bersamaan, bangsa Eropa justru sedang mencapai kejayaan sebagai pengaruh dari berkembangnya paham Renaissance, dan sibuk melakukan misi penjajahan ke negara-negara Islam.Oleh karena itu, banyak umat Islam yang frustasi dan akhirnya berusaha menjauhi kehidupan duniawi, termasuk meninggalkan kehidupan intelektual.Mereka lebih memilih menutup diri dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi.Akhirnya perkembangan ilmu pendidikan menjadi mandeg .
d. Kehidupan sufi berkembang pesat.Madrasah madrasah yang ada berkembang menjadi Zawiyat-zawiyat untuk mengadakan riyadhah di bawah bimbingan dan otoritas seorang Syaikh yang akhirnya berkembang menjadi lembaga tarekat.Dan di madrasah-madrasah yang masih tersisa itu, hampir seluruh kurikulum diisi dengan karya-karya sufistik.
e. Berkembangnya praktek bid’ah dan khurafat.hal itu ditandai dengan banyaknya umat Islam yang mengkultuskan posisi seorang Syaikh dalam suatu tarekat.sampai-sampai ada yang berdoa minta di kuburan seorang syaikh.
f. Dalam bidang fikih, yang terjadi adalah berkembangnya taklid buta di kalangan umat.Dengan sikap hidup yang statis itu, tidak ada penemuan-penemuan baru dalam bidang fikih.Apa yang sudah ada dalam kitab-kitab lama dianggap sebagai sesuatu yang baku, mantap, benar, dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya.Sehingga memunculkan pendapat bahwa “pintu ijtihad sudah tertutup”

D. TOKOH YANG TERKENAL PADA MASA KEMUNDURAN
a. A.Muhammad ibnu abdul al wahab(1115-1206H/1703-1792 M)
b. B.Syah walilullah(1113-1176 H/1702-1762 M)
Usaha pemurnian tersebut mengarah kepada dua sasaran pokok,yaitu:
1. Mengembalikan ajaran islam kepada unsur-unsur aslinya,dengan bersumberkan al-qu’ran dan al-sunnah,membuang segala bid’ah dan khufarat.
2. Membuka pintu ijtihad.

KESIMPULAN
Pendidikan merupakan suatu proses belajar engajar yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin untuk menggali, memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai yang terpujikan dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan ciri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Islam sendiri adalah proses bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (insan kamil)
Keberhasilan dan kemajuan pendidikan di masa kerajaan Islam di Aceh, tidak terlepas dari pengaruh Sultan yang berkuasa dan peran para ulama serta pujangga, baik dari luar maupun setempat, seperti peran Tokoh pendidikan Hazah Fansuri, Syamsudin As-Sumatrani, dan Syaeh Nuruddin A-Raniri, yang menghasilkan karya-karya besar sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat pengkajian Islam.


RFERENSI
Abdullah, Taufik. Ed. Agama dan Perubahan Sosial, Jakarta : CV. Rajawali, 1983
Drajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001, cet. 4
Mustofa.A, aly, Abdullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Untuk Fakultas Tarbiyah, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999
Zauharini, et.al., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2000, set 6
Rohman, fazlur, Islam, Jakarta.
Fahmi, hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidah karya agung, 1985.
http://khalik0589.wordpress.com/2008/10/30/sejarah-pendidikan-islam-periode-pertengahan-kemunduran/ - _ftn3
READ MORE - IV SEJARAH KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

III KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh ; Dedy Irawan Maesycoery

PENDAHULUAN
Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, maka diyakini bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yang dibandingkan dengan manusia sekarang, telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proes-proses pembedayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.
Dalam konteks tersebut, maka kemajuan peradaban yang dicapai umat manusia dewasa ini, sudah tentu tidak terlepas dari peran-peran pendidikannya. Diraihnya kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai bangsa-bangsa di berbagai belahan bumi ini, telah merupakan akses produk suatu pendidikan, sekalipun diketahui bahwa kemajuan yang dicapai dunia pendidikan selalu di bawah kemajuan yang dicapai dunia industri yang memakai produk lembaga pendidikan.
Proyeksi keberadaan dan kenyataan pendidikan, khususnya pendidikan Islam, tentu tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraannya pada masa lampau juga. Pendidikan [Islam] pada periode awal [masa Nabi saw] misalnya, tampak bahwa usaha pewarisan nilai-nilai diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia agar terbebas dari belenggu aqidah sesat yang dianut oleh sekolompok masyarakat elite Quraisy yang banyak dimaksudkan sebagai sarana pertahanan mental untuk mencapai status quo, yang melestarikan kekuasaan dan menindas orang-orang dari kelompok lain yang dipandang rendah derajatnya atau menentang kemauan kekuasaan mereka.
Gagasan-gagasan baru yang kemudian dibawa dalam proses pendidikan Nabi, yaitu dengan menginternalisasi nilai-nilai keimanan baik secara individual maupun kolektif, bermaksud menghapus segala keperyaan jahiliyah yang telah ada pada saat itu. Dalam batas yang sangat meyakinkan, pendidikan Nabi dinilai sangat berhasil dan dengan pengorbanan yang besar, jahiliyahisme masa itu secara berangsur-angsur dapat dibersihkan dari jiwa mereka, dan kemudian menjadikan tauhid sebagai landasan moral dalam kehidupan manusia.
Proses pendidikan yang dilakukan Nabi, yang aksentuasinya sangat tertuju pada penanaman nilai aqidah [ketauhidan], keberhasilan yang dicapainya memang sangat ditunjang oleh metode yang digunakannya. Pada proses pendidikan awal itu, Nabi lebih banyak menggunakan metode pendekatan personal-individual. Dalam meraih perluasan dan kemajuaannya, baru kemudian diarahkan pada metode pendekatan keluarga, yang pada gilirannya meluas ke arah pendekatan masyarakat [kolektif].
Pengembangan pendidikan Islam yang telah ada itu, yang pada awalnya lebih tertuju pada pemberdayaan aqidah, diupayakan Nabi dengan menempatkan pendidikan sebagai aspek yang sangat penting, yang tercermin dalam usaha Nabi dengan menggalakkan umat melalui wahyu agar mencari ilmu sebanyak-banyaknya, dan setinggi-tingginya. Masjid-masjid, pada periode awal itu, bahkan menjadi pusat pengembangan ilmu dan pendidikan, sekalipun masih mengkhususkan pada menghafal al-Qur’an, belajar hadis, dan sirah Nabi. Disiplin-disiplin lain seperti filsafat, ilmu kimia, matematika, dan astrologi kemudian juga berkembang, namun tidak dimasukkan dalam kurikulum formal. Semua disiplin ini diajarkan atas dasar kesadaran orang tua untuk mencarikan guru demi kemajuan anaknya.

PEMBAHASAN
A. MASA KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM
1. Latar Belakang Sosial Politik Kejayaan Pendidikan Islam
Pada era abad ke-20 ini, pendekatan pendidikan Islam berlangsung melalui
proses operasional menuju pada tujuan yang diinginkan, memerlukan model yang
konsisten yang dapat mendukung nilai-nilai moral-spritual dan intelektual yang
melendasinya, sebagaimana yang pertama kali dibangun Nabi. Nilai-nilai tersebut dapat diaktualisasikan berdasarkan kebutuhan dan perkembangan manusia yang dipadukan dengan pengaruh lingkungan cultural yang ada, sehingga dapat mencapai cita-cita dan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia disegala aspek kehidupannya. Tetapi apa yang terjadi, kondisi pendidikan Islam pada era abad ke-20, mendapat sorotan yang tajam yang kurang menggembirakan dan dinilai menyandang “keterbelakangan” dan julukan-julukan yang lain, yang semuanya bermuara pada kelemahan yang dialaminya. Kelemahan pendidikan Islam dilihat justru terjadi pada sektor utama, yaitu pada konsep, sistem, dan kurikulum, yang dianggap mulai kurang relevan dengan kemajuan peradaban umat manusia dewasa ini atau tidak mampu menyertakan disiplin-disiplin ilmu lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kenyataannya yang ada ini, memasukkan pendidikan Islam dalam klasifikasi yang belum dapat dikatakan telah berjalan dan memberikan hasil secara memuaskan. Hal ini mempunyai pengertian belum mampu menjawab arus perkembangan zaman yang sangat deras, seperti timbulnya aspirasi dan idealitas yang serba multi interes dan berdemensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang amat beragam, serta perkembangan teknologi yang amat pesat [Hifni Muchtar].
Melihat kenyataan ini, maka tak ayal lagi bahwa pendidikan Islam perlu mendapat perhatian yang serius dalam menuntut pemberdayaan yang harus disumbangkannya, dengan usaha menata kembali keadaannya, terutama di Indonesia. Keharusan ini, tentu dengan melihat keterkaitan dan peranannya di dalam usaha pendidikan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, sehingga perlu ada terobosan seperti perubahan model dan strategi pelaksanaannya dalam menghadapi perubahan zaman.
Usaha penataan kembali akan memperoleh keuntungan majemuk, karena:
Pertama, pendidikan Islam subsistem pendidikan nasional di Indonesia, akan dapat memperoleh dukungan dan pengalaman posetif. Kedua, pendidikan Islam dapat memberikan sumbangan dan alternatif bagi pembenahan sistem pendidikan di Indonesia dengan ragam kekurangan, masalah, dan kelemahannya. Ketiga, system pendidikan Islam yang dapat dirumuskan akan memiliki akar yang lebih kokoh dalam realitas kehidupan kemasyarakatan.
Pendidikan Islam yang bermakna usaha untuk mentransfer nilai-nilai budaya Islam kepada generasi mudaya, masih dihadapkan pada persoalan dikotomis dalam sistem pendidikannya. Pendidikan Islam bahkan diamati dan disimpulkan terkukung dalam kemunduran, kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, perpecahan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Bahkan, pendidikan yang apabila diberi embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan.
Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap sistem pendidikan Islam, yang akhirnya dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua dalam konstelasi system pendidikan di Indonesia, walaupun dalam undang-undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam mesupakan sub-sistem pendidikan nasional. Tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan Islam sering “dinobat” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin.

Pola Pendidikan Islam Pada Periode Rasulullah
A. Fase mekkah
Allah maha bijaksana sebagai calon panutan umat manusia, Muhammad ibnu Abdullah sejak”awal sekali” disiapkan oleh Allah swt dengan menjaganya dari sikap-sikap jahiliah. Denga ahlaknya yang terpujisyarat denga nilai-nilai humanisme dan spiritualisme ditengah-tengah umat yang hamper saja tidak berperikemanusiaan Muhammad bin Abdullah masih sempat mendapat gelar penghargaan tinggi, yaitu al-amin.

a) Tahap Pendidikan Islam Secara Rahasia Dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revalation) al-quran surat al-alaq ayat 1-5, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi mengingat kondisi social politik yang belum setbil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rosulullah mendidik istrinya (Khodijah) untuk beriman dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya (Ali bin Abi Tholib) dan Zaed bin Ibnu Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian dijadikan anak angkat), kemudian sahabat karibnya (Abu Bakar Asyidiq).secara berangsur-angsur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas dikalangan keluarga dekat dari suku Quraysyi saja, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awam, Saad bin Abi Waqos, Abdurrohman bin Auf, Tolhah ibnu Ubaidillah, Abu Ubaidillah ibnu Jarrah, Arqom ibnu Arqom, Fatimah binti Khotob, Said bin Zaid dan beberapa orang lainnya. Tahap awal ini disebut assabikunal awwalun. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah Arqom ibnu Arqom.


b) Tahap Pendidikan Islam Secara Terang-Terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3 tahun samapai turun wahyu berikutnya yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan. Ketika wahyu tersebut turun beliau mengundang kelurga dekatnya untuk berkumpul dibukit sofa, menyerukan agar berhati-hati terhadap adzab yang keras dikemudian hari (kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai tuhan yang maha esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab “celakalah kamu Muhammad..! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami-kami..?” saat itu turun wahyu perihal Abu Lahab dan istrinya.

c) Tahap pendidikan islam untuk umum
Hasil seruan dakwah secara terang-terangan yang terfokus kepada keluarga dekat tidak meksimal sesuai yang diharapkan. Maka Rosulullah merubah cara dakwahnya dari seruan yang fokus kepada keluarga dekat baralih kepada seruan umum umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam sekala international tersebut didasarkan kepada perintah Allah al hijr 94-95 sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, pada musim haji Rosulullah mendatangi kemah-kemah para jemaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima kecuali sekelompok jamaah haji dari Yasrib, kabilah Khazraj yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar islam memancar keluar makkah.
Penerimaan masyarakat yatsrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut dikarenaka beberapa faktof
1) adanya kabar dari kaum yahudi akan lahirnya seorang Rasul
2) suku Aus dan khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok yahudi
3) konflik antara khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama.
Berikutnya dimusim haji kedua belas kerasulan Muhammad Saw, rasulallah di datangi 12 laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan, yang dikenal dengan bai’ah al-aqobah 1. mereka berjanji tidak akan mentembah keoad selain Allah swt, tidak akan mencuri dan berzina, tudak akan membunuh anak-anak dan menjauhkan perbuatan keji dan fitnah.
Berkat semangat tinggi yang dimiliki para sahabat dalam mendakwakan ajaran Islam, seluruh penduduk yatsrib semuanya masuk islam kecuali orang-orang yahud. Musim haji berikutnya 73 orang jama’ah haji dari yatsrib mendatangi rasulallah Saw. Dan menetapkan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya ditempat yang sama dengan pelaksanan bai’ah al-aqabah 1 tahun lalu, yang dikenal dengan bai’ah al-aqabah 11, dan mereka sepakat akan menyongsong rasulallah ke yatsrib.

a. Materi pendidikan Islam
1. Materi pendidikan tauhid yang lebih difokuskan untuk memurnikan ajaraan tauhid yang dibawa nabi ibrahim a.s, yang telah diselewengkan oleh kaum jahiliyah secara teori inti sari ajaran tauhid berada di surat Al-fatiha: 1-7 dan surat al-ikhlas: 1-5.
2. Materi pengajaran Al-quran. Materi ini dapat dirinci kepada materi baca tilis al-quran(imla’ dan iqra’) dan materi menghafal ayat-ayat al-quran.

b. Metode pendidikan Islam
(1) Metode ceramah. Menyampaikan wahyu yang diterimaya.
(2) Metode dialog.
(3) Diskusi atau Tanya jawab.
(4) Metodeperumpamaan;
(5) Metode kisah;
(6) Metode pembiasaan;
(7) Metode hafalan.
Semua itu diselenggarakan dalam sebuah lembaga, menurut suatu keterangan lembaga yang dipakai Rasulallah antara lain adalah: (a) Rumah arqam ibnu arqam. (b) kuttab. Pendidikan di kuttab tidak sama dengan dirumah Arqam. Pendidikan dirumah arqam kadang-kadang berupa materi tentang hukum Islam dan dasar-dasa agama Islam. Sedangkan di kuttab, pada awalnya ebi fikus terhadap materi baca tulis sastra, sya’ir arab dan berhitung.

A. Fase Madinah
Kedatangan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin Mekkah, disambut oleh penduduk madinah dengan gembira dan penuh dengan rasa persaudaraan, maka Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisyi Makkah, lingkungan yang dakwahnya menyampaikan ajaran agama islam dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wahyu secara beruntun selama preode Madinah. Kebijakan Nabi Muhammad dalam mengajarkan al-Quran adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-quran sebagaimana diajarkannya. Beliau sering mengadakan ulangan-ulangan dalam pembacaan A-quran dalam shalat dan pidato-pidato, dalam pelajaran-pelajaran dan lembaga-lembaga.

a) Lembaga pendidian Islam di Madinah
Masjid sebagai pusat keiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum Muslimin untuk bersama-sama membina masyarakat baru. Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengemangan masyarakat baru di madinah adalah disyariatkannya media komunikasi berdasarkan Wahyu, yaitu shalat jum’at yang dilaksanakan secara berjemaah dan adzan.

b) Materi pendidikan Islam di Madinah
(1) Pendidikan ukhuah (persaudaraan) antara kaum muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan uukhuah ini, Nabi Muhammad saw bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu.
(2) Pendidikan kesejahteraan social. Terjaminnya kesejahteraan social, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidupan sehari-hari.
(3) Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat. Yang dimaksud keluarga adalah: suami, istri dan anak-anaknya.
(4) Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum muslimin merupakan satu state(negara) dibawah pinpinan Nabi Muhammad saw yang mempunyai kedaukatan .

2. Berdirinya Madrasah-madrasah
A. Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
1. Pengertian Madrasah
Madrasah (Arab: مدرسة, madrasah مدارس, madāris) adalah kata Arab (dari asal Semit; yaitu Ibrani Midrash) untuk setiap jenis lembaga pendidikan, baik sekuler atau agama (semua agama). Ini adalah berbagai ditransliterasikan sebagai madrasah, madarasaa, medresa, madrasah, madraza, madarsa, medrese dll.
a. Madrasah Amah (Arab: مدرسة عامة) diterjemahkan sebagai "sekolah umum".
b. Madrasah khāṣah (Arab: مدرسة خاصة) diterjemahkan sebagai "sekolah swasta".
c. Madrasah dīniyyah (Arab: مدرسة دينية) diterjemahkan sebagai "sekolah agama".
d. Madrasah Al-Islamiyyah (bahasa Arab: مدرسة إسلامية) diterjemahkan sebagai "Islam sekolah".
e. Jami’ah (Arab: مدرسة جامعة) diterjemahkan sebagai "universitas".
Kata madrasah dalam bahasa Arab berarti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. Dalam bahasa Indonesia madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran.
Dari pengertian di atas maka jelaslah bahwa madrasah adalah wadah atau tempat belajar ilmu-imu keislaman dan ilmu pengetahuan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istilah madrasah bersumber dari Islam itu sendiri.



2. Latar Belakang Timbulnya Madrasah
Madrasah mulai didirikan dan berkembang pada abad ke 5 H atau abad ke-10 atau ke-11 M. pada masa itu ajaran agama Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, dengan berbagai macam mazhab atau pemikirannya. Pembagian bidang ilmu pengetahuan tersebut bukan saja meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan hadis, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, ilmu kalam, maupun ilmu tasawwuf tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran, matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.
Aliran-aliran yang timbul akibat dari perkembangan tersebut saling berebutan pengaruh di kalangan umat Islam, dan berusaha mengembangkan aliran dan mazhabnya masing-masing. Maka terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pikiran, mazhab atau aliran. Itulah sebabnya sebahagian besar madrasah didirikan pada masa itu dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang masyhur pada masanya, misalnya madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah atau Hanbaliyah.
Berdasarkan dengan keterangan di atas, jelaslah bahwa penggunaan istilah madrasah, sebagai lembaga pendidikan Islam maupun sebagai aliran atau mazhab bukanlah sejak awal perkembangan Islam, tetapi muncul setelah Islam berkembang luas dan telah menerima pengaruh dari luar sehingga terjadilah perkembangan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan dengan berbagai macam aliran dan mazhabnya.
Pada awal perkembangan Islam, terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran, yaitu kuttab yang mengajarkan cara menulis dan membaca al-Qur’an, serta dasar-dasar pokok ajaran Islam kepada anak-anak yang merupakan pendidikan tingkat dasar. Sedangkan masjid dijadikan sebagai tingkat pendidikan lanjutan pada masa itu yang hanya diikuti oleh orang-orang dewasa. Dari masjid-masjid ini, lahirlah ulama-ulama besar yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan Islam, dan dari sini pulalah timbulnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam berbagai ilmu pengetahuan, yang waktu itu dikenal dengan istilah madrasah. Kegiatan para ulama dalam mengembangkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat Islam maju dengan pesatnya, bahkan dari satu periode ke periode berikutnya semakin meningkat.
Untuk menampung kegiatan khalaqah yang semakin banyak, sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajaran dan bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan, maka dibangunlah ruangan-ruangan khusus untuk kegiatan khalaqah atau pengajian tersebut di sekitar masjid. Di samping dibangun pula asrama khusus untuk guru dan pelajar, sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar setiap hari secara teratur, yang disebut dengan zawiyah atau madrasah yang pada mulanya hanya dibangun di sekitar masjid, tetapi pada perkembangan selanjutnya banyak dibangun secara sendiri.
Pada hakikatnya timbulnya madrasah-madrasah di dunia Islam merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan kegiatan proses belajar mengajar dalam upaya untuk menampung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar yang semakin meningkat dan bertambah setiap tahun ajaran.
Sementara itu, madrasah boleh dikatakan sebagai fenomena baru dari lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, yang kehadirannya sekitar permulaan abad ke-20. Namun dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajarannya masih belum punya keseragaman antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, terutama sekali menyangkut kurikulum dan rencana pelajaran. Usaha ke arah penyatuan dan penyeragaman sistem tersebut, baru dirintis sekitar tahun 1950 setelah Indonesia merdeka. Dan pada perkembangannya madrasah terbagi dalam jenjang-jenjang pendidikan; Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

B. Sistem Pendidikan dan Pengajaran Di Madrasah
Sistem pengajaran yang digunakan di madrasah adalah perpaduan antara sistem pada pondok pesantren dengan sistem yang berlaku di sekolah-sekolah modern. Penilaian untuk kenaikan tingkat ditentukan dengan penguasaan terhadap sejumlah bidang pengajaran.tertentu.
Pada perkembangan selanjutnya sistem pondok mulai ditinggal, dan berdirilah madrasah-madrasah yang mengikuti sistem yang sama dengan sekolah-sekolah modern. Namun demikian pada tahap awal madrasah tersebut masih bersifat diniyah, di mana mata pelajaran hanya agama dengan penggunaan kitab-kitab bahasa arab.
Sebagai pengaruh dari ide-ide pembaharuan yang berkembang di dunia Islam dan kebangkitan bangsa Indonesia, sedikit demi sedikit pelajaran umum masuk ke dalam kurikulum madrasah. Buku-buku pelajaran agama mulai disusun khusus sesuai dengan tingkatan madrasah, sebagai halnya buku-buku pengetahuan umum yang belaku di sekolah-sekolah umum. Bahkan kemudian timbullah madrasah-madrasah yang mengikuti sistem perjenjangan dalam bentuk sekolah-sekolah modern, seperti Madrasah Ibtidaiyah untuk tingkat dasar, Madrasah Tsanawiyah untuk tingkat menengah pertama, dan adapula Kuliah Muallimin (pendidikan guru) yang disebut normal Islam.
Pada tahap selanjutnya penyesuaian tersebut semakin meningkat dan terpadu dengan baik sehingga sukar untuk dipisahkan dan dibedakan antara keduanya, kecuali madrasah yang langsung ditulis predikat Islamiyah. Kurikulum madrasah atau sekolah-sekolah agama, mempertahankan agama sebagai mata pelajaran pokok, walaupun dengan persentase yang berbeda. Pada waktu pemerintahan RI dalam hal ini oleh Kementerian Agama mulai mengadakan pembinaan dan pengembangan terhadap sistem pendidikan madrasah. Melalui Kementerian Agama, madrasah perlu menentukan kriteria madrasah. Kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama untuk madrasah-madrasah yang berada di dalam wewenangnya adalah harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok, paling sedikit enam jam seminggu.
Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sistem pendidikan dan pengajaran di madrasah merupakan perpaduan antara sistem yang berlaku di pondok pesantren dengan sistem yang berlaku di sekolah-sekolah modern.

C. Pembinaan dan Pengembangan Madrasah
Sejak timbulnya madrasah dan menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang mandiri, tanpa bimbingan dan bantuan pemerintah kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, madrasah dan pesantren mulai mendapatkan perhatian dan pembinaan dari pemerintah RI. UUD 1945 mengamanatkan, agar mengusahakan terbentuknya suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat nasional yang diatur undang-undang.
Untuk melaksanakan amanat tersebut, BPKNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) sebagai Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat pada masa itu, merumuskan pokok-pokok usaha pendidikan dan pengajaran yang terdiri dari 10 pasal. Pada pasal 5 (b) sebagaimana dikutip oleh Hasbullah, menetapkan bahwa “madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya adalah suatu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat akar dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, hendaknya juga mendapat perhatian dan bantuan materil dari pemerintah.
Dalam hal ini wewenang pembinaan dan pemberian bantuan dan tuntunan tersebut diserahkan kepada Kementerian Agama. Tujuan pembinaan dan bantuan adalah agar madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berkembang secara terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional, sebagaimana yang dikehendaki oleh UUD 1945.
Usaha integrasi tersebut ternyata tidak berjalan mudah. Sikap mandiri dan sikap non-kompromi dengan pemerintah pada masa sebelumnya, masih tetap berakar dalam masyarakat. Oleh karena itu pembinaan dan pengembangan madrasah tersebut dilaksanakan dengan penuh kebijaksanaan dan dilaksanakan secara bertahap.
Selanjutnya dalam rangka meningkatkan madrasah sesuai dengan sasaran BPKNIP agar madrasah dapat bantuan materil dan bimbingan dari pemerintah, maka kementerian agama mengeluarkan peraturan Menteri Agama No. I tahun 1952. Menurut ketentuan ini, yang dinamakan madrasah ialah “tempat pendidikan yang telah diatur sebagai sekolah dan memuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Islam menjadi pokok pengajarannya”.
Dengan persyaratan tersebut, maka diadakanlah pendaftaran madrasah-madrasah yang memenuhi syarat. Pada tahun 1954 tampak madrasah yang memenuhi persyaratan untuk seluruh Indonesia berjumlah 13.849 buah sebagaimana dikemukakan dalam tabel di bawah ini.

Tingkat Madrasah Jumlah Madrasah Jumlah Murid
Madrasah Ibtidaiyah
Madrasah Tsanawiyah
Madrasah Aliyah 13.057
776
16 1.927.777
87.932
1.881
Jumlah 13.849 2.017.590

Dalam upaya pemerintah untuk menyediakan guru-guru agama untuk sekolah dan guru-guru umum serta lembaga pendidikan lainnya pada tahun 1951 Kementerian Agama mendirikan Sekolah Guru Agama Islam (SGAI) dan sekolah Guru dan Hakim Agama Islam (SGHAI) di beberapa tempat. Berdirinya kedua jenis sekolah guru tersebut banyak manfaatnya bagi perkembangan dan pembinaan madrasah, karena kedua jenis sekolah guru ini, memberikan kesempatan bagi para alumni madrasah dengan persyaratan tertentu untuk memasukinya. Hal tersebut telah mendorong penyelenggaraan madrasah untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Pada alumni kedua jenis sekolah guru agama tersebut, diperbantukan pada madrasah-madrasah guna mempercepat proses pembinaan dan perkembangannya, menuju kepada pengintegrasian ke dalam sistem pendidikan nasional.
Kedua jenis sekolah guru itu, kemudian namanya diubah menjadi PGA (Pendidikan Guru Agama) dan SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama). PGA menyediakan calon guru agama untuk sekolah dasar dan madrasah tingkat Ibtidaiyah, sedangkan SGHA menyediakan calon-calon guru agama untuk tingkat sekolah menengah baik sekolah agama maupun sekolah umum, dan hakim pada Pengadilan Agama. Pada tahun 1957 SGHA disebut sebagai PGA dan untuk keperluan tenaga pendidikan hakim agama didirikan PHIN (Pendidikan Hakim Negeri). Pada masa itu banyak madrasah tingkat Tsanawiyah dan Aliyah berubah menjadi PGA. Dengan demikian, di samping PGA pertama (4 tahun), 9 buah PGA atas (2 tahun) dan 1 buah PHIN (3 tahun).
Upaya pembinaan madrasah, menuju kesatuan sistem pendidikan nasional, semakin ditingkatkan. Usaha tersebut tidak hanya merupakan tugas dan wewenang Departemen Agama saja, tetapi merupakan tugas dan wewenang pemerintah secara keseluruhan bersama masyarakat.
Pada tahun 1975, dikeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri antara Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah. Hal ini dilatar belakangi bahwa siswa-siswa madrasah sebagaimana halnya tiap-tiap warga negara Indonesia berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dan pengajaran yang sama, sehingga lulusan madrasah, yang menghendaki melanjutkan atau pindah ke sekolah-sekolah umum dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Dalam rangka merealisasikan SKB 3 menteri tersebut, maka pada tahun 1976 Departemen Agama mengeluarkan kurikulum sebagai standar untuk dijadikan acuan oleh madrasah, baik untuk MI, MTs, maupun Madrasah Aliyah.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, maka dapatlah disimpulkan bahwa pembinaan dan pengembangan madrasah tetap dilaksanakan semenjak munculnya istilah madrasah sampai lahirnya SKB 3 Menteri, di mana madrasah dipersamakan dengan sekolah umum, yang dalam hal ini adalah sekolah negeri umum yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang sederajat. Dan demikian jelasnya bahwa pemerintah tetap memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Indonesia.

MASA KEPEMIMPINAN KHULAFAUR RASYIDIN
1. Masa khalifah Abu bakar al-syidiq (632-634 M).
Masa awal khalifah abu baker diguncang pemberontak oleh orang-orang murtad, orang yang mengaku sebagai Nabi dan orang-orang yang enggan membayar Zakat. Berdasarkan hal ini abu baker memutuskan perhatiannya untum memerangi para pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan memengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam. Dalam menumpas ini banya umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat Rasulallah dan para hafiz al-quran, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang hafiz al-quran. Oleh karena itu sahabat Umar bin khattab menyarankan khalifah untuk mengumpulkan ayat-ayat al-quran, kemudian untuk merealisasikan hal itu, diutuslah Zaid bin tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan al-quran. Pola pendidikan pada masa Abu bakar masih seperti masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dari segi materi, pendidikan Islam terdiri dari beberapa macam.
1. Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
2. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, dan lain sebagainya.
3. Kesehatan, seperti tentang kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memeperkuat jasmani dan rahani.

2. Masa Umar bin Khattab (13-23 H: 634-644 M)
Pada masa khalifah Umar bi Khatab, kondisi politik dalam keadaan stabil, usaha perluasan wilaya Islam memperoleh hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa Umar meliputi semenanjung Arabia, Plestina, Syiria, Irak, Persia dan Mesir.
Pada masa itu, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperbolehkan untuk keluar daerah kecuali atas izin khalifah dan dalam waktu yang terbatas.jadi, kalau ada Umat Islam yang ingin belajar hadits harus pergi kemadinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabatdan dan tempat pendidikan terpusat di Madinah.
Khalifah Umar merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota madinah. Adapun metode yang mereka pakaai adalah guru duduk di halaman Masjid, sedangkan Murid di belakangnya.meluasnya kekuasaan Islam, mendorong kegiatan pendidikan islam bertambah besar, karena mereka yang baru menganu Agama Islam ingin menima Ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung dari Rasulallah.
Mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis al-quran dan menghafalnya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Pendidikan dimasa Umar ini lebih maju dari pada khalifah sebelumnya.

3. Masa kahlifah Utsman bin Affan (23-35 H: 644-656 M).
Pada masa Utsman, pelaksanaan pendidikan islam tida jauh berbeda dengan masa sebelumya, hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit ada perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dkat dengan Rasulallah yang tidak diperbolehkan meninggalkan madinah dimasa Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka skai. Kebijakan ii sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Peruses pendidikan di masa Utsman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh peserta didik dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Banyak sekali perkembangan pendidiksan, kalau dibandingkan denga asa Umar, sebab pada masa Utsman urusan pendidkan diserahkan saja pada rakyat. Dan apabila diliha dari segi kindisi pemerintaha utsman banyak timbil pergolakan dalam msyarakat sebagai akibat ketidak senangan senangan mereka tehadap kebijakan Utsman yang mengangkat kerabatnya dalam pemerintahan.
4. Masa halifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H: 656-661 M)
Pada pemerintahannya sudah diguncang peperangan dengan Aisyah(Istri Nabi) beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Utsman, peperangan diantara mereka disebut perang Jamal (Unta) karena Aisyah menggunakan kendaraan Unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehinnga masa kekuasaan Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.
Muawiyah sebagai gubernur Damaskus memberontak untuk melengserkan kekuasaannya, peperangan ini disebit perang shiffin, karena terjadi di shiffin. Ketika tentara Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawayah segera mengambil siasat untukmenyatakan Tahkim, semula Ali menolak, tetapi karena desakan sebagian tentaranya akhirnya Ali menyetujuinya, namun tahkim malah menimbulkan kekacauan, sebab Muawiyah bersifat curang, ingga ia berhasil mengalakan Ali dan mendirikn pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara Tahkim, meninggalkan Ali dengan membuat kelompok tersendiri yaitu Khawarij.

3. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam
Era globalisasi dapat dipahami sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh adanya penyatuan politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan lain sebagainya, yang terjadi di antara satu negara dengan negara lainnya, tanpa menghilangkan identitas negara masing-masing. Penyatuan ini terjadi berkat kemajuan teknologi informasi (TI) yang dapat menghubungkan atau mengomunikasikan setiap isu yang ada pada suatu negara dengan negara lain.
Bagi umat Islam, era globalisasi dalam arti menjalin hubungan, tukar-menukar dan transmisi ilmu pengetahuan, budaya, dan sebagainya sesungguhnya bukanlah hal baru. Globalisasi dalam arti yang demikian, bagi umat Islam merupakan hal biasa. Pada zaman klasik (abad ke-6 s.d. 13 M) umat Islam telah membangun hubungan dan komunikasi yang intens serta efektif dengan berbagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan yang ada di dunia, seperti India, Cina, Persia, Romawi, dan Yunani. Hasil dari komunikasi ini umat Islam telah mencapai kejayaan, bukan hanya dalam bidang ilmu agama Islam, melainkan dalam bidang ilmu pengetahuan umum, kebudayaan, dan peradaban, yang warisannya masih dapat dijumpai hingga saat ini, seperti di India, Spanyol, Persia, serta Turki.
Selanjutnya, pada zaman pertengahan (abad ke-13 hingga 18 M), umat Islam telah membangun hubungan dengan Eropa dan Barat. Saat itu, umat Islam memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan Eropa dan Barat. Beberapa penulis Barat, misalnya WC Smith dan Thomas W Arnold, mengakui bahwa kemajuan yang dicapai dunia Eropa dan Barat saat ini karena sumbangan dari kemajuan Islam. Mereka telah mengadopsi ilmu pengetahuan dan perabadan Islam tanpa harus menjadi orang Islam.
Pada zaman pertengahan itu, umat Islam hanya mementingkan ilmu agama saja. Sementara itu, ilmu pengetahuan, seperti matematika, astronomi, sosiologi, dan kedokteran tidak dipentingkan. Bahkan, dibiarkan untuk diambil oleh Eropa dan Barat. Pada zaman ini, Eropa dan Barat mulai bangkit mencapai kemajuan, sementara umat Islam berada dalam keterbelakangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.
Pada zaman modern (abad ke-19 sampai dengan sekarang), hubungan Islam dengan dunia Eropa dan Barat terjadi lagi. Di zaman ini timbul kesadaran dari umat Islam untuk membangun kembali kejayaannya dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban melalui berbagai lembaga pendidikan, pengkajian, dan penelitian. Umat Islam mulai mempelajari kembali berbagai kemajuan yang dicapai oleh Eropa dan Barat, dengan alasan bahwa apa yang dipelajari dari Eropa dan Barat itu sesungguhnya mengambil kembali apa yang dahulu dimiliki umat Islam.
Namun demikian, hubungan Islam dengan Eropa dan Barat, sekarang keadaannya sudah jauh berbeda dengan hubungan Islam pada zaman klasik dan pertengahan sebagaimana tersebut di atas. Di zaman klasik dan pertengahan, umat Islam dalam keadaan maju atau hampir menurun, sedangkan keadaan Eropa dan Barat dalam keadaan terbelakang atau mulai bangkit.
Keadaan Eropa dan Barat saat ini berada dalam kemajuan, sedangkan keadaan umat Islam berada dalam ketertinggalan. Tidak hanya itu, keadaan dunia saat ini telah dipenuhi oleh berbagai paham ideologi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam, seperti ideologi kapitalisme, materialisme, naturalisme, pragmatisme, liberalisme bahkan ateisme yang secara keseluruhan hanya berpusat pada kemauan manusia (anthropocentris ). Hal ini berbeda dengan karakteristik keseimbangan ajaran Islam yang memadukan antara berpusat pada manusia ( anthropocentris ) dan berpusat pada Tuhan ( theocentris ).

4. Pendidikan Wanita
Sudah merupakan kewajiban bagi tiap Muslim baik itu pria maupun wanita untuk mendapatkan pengetahuan. Untuk itu diantara keduanya tidak ada perbedaan sama sekali dalam memperoleh pendidikan dan pengetahuan. Dan berikut pentingnya mencari ilmu pengetahuan bagi pria dan wanita seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Dalam Nur al-Albab, dia menyatakan bahwa para ulama yang menentang pendidikan bagi kaum wanita adalah para munafik dan “iblis-iblis bersama mereka”. Dia bertanya:”Bagaimana mereka dapat meninggalkan istri-istrinya, putri-putrinya dan para pembantunya dalam kebodohan yang gelap dan kesalahan disaat mereka mengajari murid-muridnya siang dan malam! Ini tidak lebih hanya sebuah sifat egois mereka, karena mereka mengajar murid-muridnya untuk pamer dan unjuk kebanggaan, Ini sungguh sebuah kesalahan besar.”

a) Pentingnya belajar dan mencari ilmu dalam Islam
Seperti yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam surat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ketika itu malaikat Jibril membawa wahyu dan meminta Nabi Muhammad SAW membacanya. Allah SWT berfirman:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” - (Al-Alaq : ayat 1-5).

b) Doa para Nabi dan orang-orang shaleh banyak disebutkan di dalam Al-Qur'an.
Allah memerintahkan kepada umatnya di dalam Al-Qur'an untuk berdoa: “...Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Surat Thaahaa : ayat 114).
Doa ini merupakan doa yang cukup populer bagi umat Nabi Muhammad SAW selama berabad-abad dan bahkan anak-anak kecil dari keluarga Muslim sudah menghafalkan dan membaca doa ini.

c) Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna.
Hal ini dikarenakan Allah SWT memberikan akal pikiran serta pengetahuan kepada manusi. Hikmah atau ilmu adalah harta yang sangat berharga dan kekayaan yang tiada habisnya.
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (Al-Baqarah : ayat 269).
Nabi Muhammad saw berkata,”Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Diriwayatkan dalam Al-Bayhaqi dan Ibn-Majah, dikutip oleh M.S. Afifi, Al-Mar’ah Wa Huququha Fil-Islam (dalam bahasa Arab), Maktabat Al-Nahdhah, Kairo, Mesir, 1988, h. 71.)

Kata dari “Muslim” adalah inklusif bagi pria dan wanita.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qur’an, 9:71)
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain….(Qur’an, 3:195)
Adalah kewajiban bagi wanita untuk memperoleh pendidikan ilmu agama seperti shalat, puasa, zakat, haji, sebagaimana kewajiban untuk berdagang dan bertransaksi. Jika suaminya tidak mampu untuk memberikan padanya ilmu tersebut, maka wanita tersebut menurut Islam wajib untuk mencarinya. Shaikh Usman dan Fodio, seorang guru terkenal dari Nigeria mengatakan dalam Irshad al-Ikhwan,”Jika sisuami tidak mengizinkannya, maka si istri dibolehkan keluar mencari ilmu tanpa seizinnya, dan tidak ada kesalahan baginya dan pula tidak dosa baginya karena itu. Peraturan ini seharusnya mendorong para suami agar mendukung istrinya dalam mencari ilmu, sewajib bagi suami untuk menafkahi keluarganya, sesungguhnya ilmu adalah utama (dan wajib dipelihara dan diamalkan)”.
Lebih lanjut dalam buku yang sama dia mengatakan,”Oh kaum muslim! Jangan dengarkan mereka yang tersesat dan menyesatkan; yang berusaha untuk menipu kalian untuk mentaati suamimu, tanpa terlebih dahulu memintamu untuk mematuhi Allah SWT dan Rasulnya. Mereka berkata bahwa kebahagian wanita tergantung kepatuhannya kepada suami; mereka berkata begitu hanya ingin memuaskan egonya dan keinginannya kepada kalian. Mereka memaksakan kalian untuk melakukan hal yang Allah dan Rasulnya tidak pernah mewajibkanmu, seperti memaska, nyuci baju, dan hal-hal serupa.
Dalam kitab al-Irshad. Saykh Dan Fodia juga mengatakan bahwa kaum wanita wajib menuntut hak-hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Wanita seperti pria, diciptakan dengan satu maksud, yaitu untuk menyembah Allah, yang hal itu mustahil tercapai tanpa ilmu yang benar. “Sudahkah kaum wanita menuntut hak-hak kepada suami mereka dalam urusan agama dan membawa kasusnya kepengadilan, dan menuntut agar suaminya mendidiknya dalam urusan agama dan memberikan izin kepada para istri keluar untuk belajar, ini seharusnya merupakan kewajiban bagi penegak hukum untuk memaksa para suami untuk meluluskan hal-hal tersebut sebagaimana kewajiban para suami untuk memberi nafkah dan hak-hak dunia lainnya, karena hak-hak keagamaan adalah paling utama dan dilebihkan.”
Beliau juga memberi pertanyaan dalam kitab al-Irshad: Menurut hukum, wanita harus mencari ilmu yang tidak didapatinya dari suami mereka; haruskah para ulama yang tidak dapat mengatur posisi duduk yang aman dimajlis taklimnya yang murid-muridny terdapat pria dan wanita kaluar ketempat terbuka dan mengajari Islam, karena mengetahui bahwa kaum wanita wajib hukum untuk belajar? Dia berkata,”Dia harus kelur, namun tetap dia harus mencegah campurny pria dan wanita, jika hal tersebut terjadi didepan kehadirannya, maka ia harus memisahkan pria disatu sisi dan wanita disisi yang lainnya.”
Maka wanita muslim mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan dari suaminya dan jika (karena tidak semua para suami adalah seorang ahli agama, dan tidak selalu tahu), diizinkan keluar untuk mencari ilmu! Dan ini diakui oleh hampir semua ulama terkemuka.
Ulama Muslim masa awal Mazhab Fiqh Maliki dalam buku Ibn al-Hajj menulis: Jika seorang wanita menuntut haknya untuk belajar ilmu agama kepada suaminya dan membawa kasus tersebut kepada hakim, tuntutannya dibenarkan karena adalah haknya untuk dididik ilmu oleh suaminya atau mengizinkannya keluar mencari ilmu dimanapaun. Sang hakim harus memaksa suaminya untuk meluluskan tuntutan sang istri seperti kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan materi sang istri, karena hak-hak istri dalam urusan agama adalah hal yang paling esensi dan paling utama.”


KESIMPULAN
Era globalisasi dapat dipahami sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh adanya penyatuan politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan lain sebagainya, yang terjadi di antara satu negara dengan negara lainnya, tanpa menghilangkan identitas negara masing-masing. Penyatuan ini terjadi berkat kemajuan teknologi informasi (TI) yang dapat menghubungkan atau mengomunikasikan setiap isu yang ada pada suatu negara dengan negara lain.
Pada awal perkembangan Islam, terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran, yaitu kuttab yang mengajarkan cara menulis dan membaca al-Qur’an, serta dasar-dasar pokok ajaran Islam kepada anak-anak yang merupakan pendidikan tingkat dasar. Sedangkan masjid dijadikan sebagai tingkat pendidikan lanjutan pada masa itu yang hanya diikuti oleh orang-orang dewasa. Dari masjid-masjid ini, lahirlah ulama-ulama besar yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan Islam, dan dari sini pulalah timbulnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam berbagai ilmu pengetahuan, yang waktu itu dikenal dengan istilah madrasah. Kegiatan para ulama dalam mengembangkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat Islam maju dengan pesatnya, bahkan dari satu periode ke periode berikutnya semakin meningkat.

REFERENSI
Hanun Asrohah, Sejarah pendidikan Islam, (Jakarta:Wacana Ilmu,2001),
Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, (Bandung: Angkasa, 2000),
Ahmad Syalaby, sejarah kebudayaan islam, (Jakarta: al-husna, 2000)
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN Jakarta, 1986),.
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996),
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001),
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),
Haikal, Sejarah kehipan Muhammad(Jakarta: Balai pustaka, 1972)
Samsul Nizar, Sejarah pendidikan Islam (Jakarta: Kencana: Prenada media group, 2007)
http://www.sanaky.com/materi/Pendidikan_Islam_Di_Indonesia.pdf
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan islam(Jakarta:kalam mulia 2002) jilid 1.
READ MORE - III KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

II SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA ROSUL, KHULAFAURRASYIDIN DAN DINASTI BANI UMMAYAH

Oleh: Dedy Irawan Maesycoery
PENDAHULUAN
Rasulullah SAW. sebagai suri teladan dan rahmatan lil‘alamin bagi orang yang mengharapkan rahmat dan kedatangan hari kiamat. Beliau adalah pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan Islam. proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spirituailisme dan bimbingan emosional yang dilakukan Rasulullah dapat dikatakan sebagai mukjizat luar biasa.
Pada periode Rasulullah, fase Makkah dan Madinah, para aktivis pendidikan dapat menyerap berbagai teori dan prinsip dasar yang berkaitan dengan pola-pola pendidikan dan interaksi sosial yang lazim dilaksanakan dalam setiap manajemen pendidikan Islam.
Pola pendidikan di masa Rasulullah SAW., tidak terlepas dari metode, evaluasi, materi, kurikulum, pendidikan, peserta didik, lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoritis maupun praktis.
Pada masa Khulafaur rasyidin, banyak sekali kendala dalam hal kependidikan, dari mulai masa Abu Bakar sampai Ali Bin Abu Thalib.
Dengan berakhirnya kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib, maka terlahirlah kekuasaan dinasti bani umayyah. Umayyah berkuasa kurang lebih selama 91 tahun. Reformasi cukup banyak terjadi, terkait pada bidang pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam. Pengembangan ilmu tidak hanya dalam bidang agama semata melainkan juga dalam aspek teknologinya. Sementara sistem pendidikan masih sama ketika masa rasul dan khulafaur rasidin, yaitu kuttab yang pelaksanaanya berpusat di masjid.

PEMBAHASAN
A. PENDIDIKAN PADA MASA RASULULLAH
1. Tahap Pendidikan Islam Pada Fase Mekkah
a. Tahap rahasia dan perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama, Al-Quran surat 96, ayat 1-5, pola yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosial politik yang belum stabil, di mulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik istrinya, Khadidjah, untuk beriman dan menerima petunjuk-petunjuk dari Allah, kemudain diikuti oleh anak angkatnya Ali Ibn Abi Thalib (anak pamanya) dan Zaid ibn Haritsah ( seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya) kemudian sahabat karibnya, Abu Bakar Siddiq. Secara berangsur-angsur ajakan tersebut di sampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga dekat dari suku Quraisy saja, sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah Arqam ibn Arqam
b. Tahap terang-terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun,sampai turun wahyu yang berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan. Ketika wahyu tersebut turun, beliau menggundang keluarga dekatnya untuk berkumpul di bukit shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras di hari kemudian (hari kiamat)
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh rasulullah seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut, banyak kaum Quraisy yang akan masuk islam. di samping itu,keberadaan rumah Arqam ibn Arqam sebagai pusat dan lembaga pendidikan Islam, sudah di ketahui oleh kuffar Quraisy.
c. Tahap untuk umum
Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang berfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruan. Seruan dalam rangka ‘Internasional’ tersebut, di dasarkan kepada perintah Allah, surat al-Hijr ayat 94-95. Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, pada musim haji Rasulallah mendatangi kemah-kemah para jamaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang diterima, kecuali sekelompok jamaah haji dari Yatsrib, kabilah Khazraj, yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memancar ke luar Mekkah.

2. Lembaga Pendidikan Dan Sistem Pembelajaran
Lembaga pendidikan Islam pada fase Makkah, ada dua macam/tempat, yaitu: Rumah Arqam ibn Arqam dan kuttab. Dalam sejarah pendidikan Islam, istilah kuttab telah dikenal di kalangan bangsa Arab Pra-Islam. Ahmad salaby mengatakan bahwa kattab sebagai lembaga pendidikan terbagi menjadi dua,yaitu: pertama, kattab berfungsi mengajarkan baca tukis dengan teks dasar puisi-puisi arab, dan sebagian besar gurunya adalah nonmuslim, yana berlangsung di rumah-rumah dan pekarangan sekitar masjid. Kedua, sebagai pengajaran Al-Quran dan dasar-dasar agama Islam. Pengajaran teks al-Quran pada jenis kuttab yang jedua ini, setelah qurra dan huffiaz tahlil bacaan dan menghafal al-Quran telah banyak. Jenis institusi yang kedua ini merupakan lanjutan dari kuttab yang pertama.

3. Materi Dan Kurikulum Pendidikan Islam
Salah satu komponen operasional pendidikan islam adalah kurikulum, ia mengandung materi yang diajarkan secara sisitematis dengan tujuan yang telah ditetapkan . pada hakikatnya antara materi dan kurikulum mengandung arti yang sama, yaitu bahan-bahan pengajaran yang disajikan dalam proses pendidikan dalam suatu sistem institusional pendididkan. Seseorang yang akan membuat lesson plan tidak cukup hanya mempunyai kemamapuan membuat rumusan tujuan pengajaran. Ia juga harus menguasai materi pengajaran. Oleh karena itu, guru harus menguasai materi pengajaran.
Kurikulum pendidikan islam pada periode Rasulullah baik di Mekkah maupun Madinah adalah al-Quran , yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam pada saat itu. Karena itu, dalam praktiknya tidak saja logis dan rasional tetapi juga secara fitrah dan pragmatis. Hasil dari cara yang demikian itu dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya yang dipancarkan kedalam sikap hidup yang bermental dan semangat yang tangguh, tabah, dan sabar tetapi aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Mahmud Yunus mengklasifikasikan materi pendidikan kepada dua macam, yaitu materi pendidikan yang diberikan di Mekkah dan materi pendidikan yang diberikan di Madinah. Pada fase Mekkah terdapat tiga macam inti sari materi pelajaran yang diberikan di Makkah, yaitu keimanan, ibadah dan akhlak. Dan inti sari pendidikan agama yang diterapkan Nabi di Madinah ada lima macam, yaitu pendidikan keimanan, ibadah, akhlak, kesehatan, dan kemasyarakatan.
Zhukairini membagi materi pandidikan pada fase Mekkah kepada dua bagian, yaitu: pendidikan tauhid dan pandidikan al-Quran.

4. Metode Pengajaran Rasulullah
Metode pengajaran ialah cara yang digunakan guru dalm mengadakan hubungan denagn sisiwa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Dengan kata lain, terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru-guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan sisiwa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses ini akan berjalan baik kalau siswa banyak aktiv dibandingkan dengan guru. Oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa
Untuk menciptakan suasana kondusif dan menyenagkan dalam mengajar para sahabatnya, Rasulullah SAW. Menggunakan bermacam metode. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan kebosanan dan kejenuhan siswa. Di antara metode yang diterapkan adalah (1) metode ceramah (2) dialog (3) diskusi atau tanya jawab (4) metode demonstrasi (5) metode eksperimen, metode sosiodrama dan bermain peranan.
Selanjutnya, metode pendidikan akhlak disampaikan Nabi dengan membacakan ayat-ayat al-Quran yang berisi kisah-kisah uamt dahulu kala, supaya diambil pengajaran dan iktibar dari kisah itu.orang yang taat dan patuh mengikuti Rasulullah, akan mendapat kebahagiaan dan orang yang durhaka mendapat siksa, seperti kisah Qarun yang bakhil dan kisah Musa yang berbuat baik kepada putri Su’aib dan lain-lain
Di samping dengan metode kisah; pendidikan akhlak juga dilakukan dengan menggunakan metode penegasan dan uswat al-hasanat. Misalnay dengan menjelaskan kreteria orang-orang munafik dan akibatnya, dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan Muhajirin. Metode-metode pendidikan akhlak yang diterapkan Rasulullah sangat berbekas di dalam pola tingkah laku para sahabat. Hal ini dapat dilihat dari kondisi umat saat itu yang betul-betul patuh dan taat kepada perintah Rasulullah SAW. Persaudaraan diantara mereka kaum Anshar dan Muhajirin terbina dengan rapat, kokoh dan penuh kasih sayang.
Metode Rasulullah dalam mendidik anak dapat dilihat dari arti hadis berikut ini;
Ana r.a. berkata, “Rasulullah SAW, adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku punya saudara yang dipanggil Abu Umair. Dia anak yang sudah dipisahkan dari susuan. Jika adtang beliau berkata,”wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair (burung kecil)?” kadang-kadang, beliau bermain dengan dia, jika tiba saat shalat sementara beliau masih berada di rumah kami, beliau meminta permadani yang ada dibawahnya, lalau permadani itu beliau sapu dan ditiup-tiup. Kemudian berdiri dan mengikuti oleh kami di belakangnya.”(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidi, dan Daud)
Dari hadist diatas nilai-nilai tarbiyah yang dapat dipetik adalah sebagai berikut:
1. Meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak
2. Membersihkan pertanda adanya praktik amal untuk bisa berbuat bersih sacara iman dan perilakunya nyata.
3. Shalat Rasulullah di dalam rumah menanamkan pemahaman teladan didalam urusan ibadah.
4. Kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah Saw. “wahai Abu Umair, apa yang dikerjakan nughair?” punya beberapa faedah diantaranya:
a. Kata-kata akhirnya cocok dengan jiwa anak
b. Mudah dihafal
c. Mudah di-ucapkan
Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari metode Rasulullah dalam mengajar anak usia puber sebagai berikut:
1. Mengajar anak usia puber untuk mendiskusikan inti permasalahan sehingga pikirannya tidak terpecah
2. Rasulullah menguasai aspek psikis anak usia puber
3. Rasulullah membuka dialog dengan anak usia puber
4. Rasulullah memberikan pertanyaan yang jumlahnya banyak, dan banyaknya pertannyaan menambah jumlah dalil dan alasan
5. Diskusi dilakukan dengan sistem tanya jawab
6. Memusatkan dan mengkonsentrasikan pikiran anak usia puber pada pertannyaan yang dilontarkan
7. Menumbuhkan interaksi esensial antara pendidik dan anak usia puber
8. Jawaban dari anak usia puber bisa dikategorikan sebagai dalil ilmiah atas dirinya



POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA PERIODE RASULULLAH
A. Sosiokultural Masyarakat Makkah dan Madinah
Kondisi sosiokultural masyarakat Arab pra Islam. Terutama pada masyarakat Makkah dan Madinah sangat mempengaruhi pola pendidikan periode Rasulullah di Makkah dan Madinah. Secara kuantitas orang-orang yang masuk Islam pada fase Makkah lebih sedikit daripada orang-orang yang masuk Islam pada fase Madinah. Diantaranya disebabkan oleh watak dan budaya nenek moyang mereka sedangkan masyarakat Madinah lebih mudah dimasuki ajaran Islam karena kondisi masyarakat sangat membutuhkan seorang pemimpin.
Pola pendidikan Islam periode Rasulullah SAW. dibedakan menjadi dua fase: (1) fase Makkah, (2) fase Madinah.

1. Fase Makkah
Sebagai calon panutan umat manusia, Muhammad ibn Abdullah sejak “awal sekali” telah disiapkan Allah, dengan menjaganya dari sikap-sikap jahiliah. Dengan akhlaknya yang terpuji, syarat dengan nilai-nilai humanisme dan spiritualisme di tengah-tengah umat yang hampir saja tidak berperikemanusiaan, Muhammad ibn Abdullah, masih sempat mendapat gelar penghargaan tertinggi, yaitu al-Amin. Seseorang yang teguh mempertahankan tradisi Nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakiki, menjatuhkan diri dari keramaian dan sikap hedonisme dengan berkontemplasi (ber-tahannus) di gua Hira’. Pada tanggal 17 Ramadhan turunlah wahyu Allah yang pertama, surat al-Alaq ayat 1-5 sebagai fase pendidikan Islam di Makkah.
a. Tahapan pendidikan Islam pada fase Makkah
1) Tahap pendidikan Islam secara rahasia dan perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama al-Qur'an surat 96 ayat 5, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosial-politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik istrinya, Khadijah untuk beriman kepada dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Abi Thalib dan Zaid ibn Haritsah. Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar Siddiq. Secara berangsur-angsur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga dekat dari suku Quraisy saja, seperti Usman ibn Affan, Zubair ibn Awam, Sa’ad ibn Abi Waqas, dan beberapa orang lainnya, mereka semua tahap awal ini disebut Assabiquna al-Awwalun, artinya orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah Arqam ibn Arqam.
2) Tahap pendidikan Islam secara terang-terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun, sampai turun waktu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan. Ketika wahyu tersebut turun, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul di bukit Shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras di kemudian hari (hari kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya.
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Di samping itu, keberadaan rumah Arqam ibn Arqam sebagai pusat dan lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh kuffar Quraisy.
3) Tahap pendidikan Islam untuk umum
Hasil seruan dakwah secara terang-terangan yang terfokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimal. Maka Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada perintah Allah. Pada musim haji, Rasulullah mendatangi kemah-kemah para jamaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima, kecuali sekelompok jamaah haji dari Yasrib, kabilah Khazraj yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memancar ke luar Makkah.
Penerimaan masyarakat Yasrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut dikarenakan beberapa faktor: (1) adanya kabar dari kaum Yahudi akan lahirnya seorang Rasul; (2) suku Aus dan Khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok Yahudi; (3) konflik antara Khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rantang waktu yang sudah lama, oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pemimpin yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.
Di musim haji pada tahun kedua belas kerasulan Muhammad SAW., Rasulullah didatangi dua belas orang laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan, yang dikenal dengan “Bai’ah al-Aqabah” I.
Berkat semangat yang tinggi yang dimiliki para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam, sehingga seluruh penduduk Yasrib masuk Islam kecuali orang-orang Yahudi. Musim haji berikutnya 73 orang jamaah haji dari Yasrib mendatangi Rasulullah SAW. dan menetapkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya di tempat yang sama dengan pelaksanaan “Bai’ah al-Aqabah I” tahun lalu, yang dikenal dengan “Bai’ah al-Aqabah II” dan mereka bersepakat akan memboyong Rasulullah ke Yasrib.
b. Materi pendidikan Islam pada fase Makkah
Pertama, materi pendidikan tauhid. Materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyah. Pendidikan tauhid diberikan melalui cara-cara yang bijaksana, menuntun akan pikiran dengan mengajak umatnya untuk membaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan diri manusia sendiri.
Kedua, materi pengajaran al-Qur'an. Materi ini dapat dirinci kepada: (1) materi baca tulis al-Qur'an, (2) materi menghafal ayat-ayat al-Qur'an, dan (3) materi pemahaman al-Qur'an.
c. Metode pendidikan Islam
Metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain: (1) metode ceramah, (2) dialog, (3) diskusi atau tanya jawab, (4) metode perumpamaan, (5) metode kisah, (6) metode pembiasaan, dan (7) metode hafalan.
Dalam buku “Tarbiyah Islamiyah” yang ditulis oleh Najb Khalid al-Amar mengatakan bahwa metode pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad pada periode Makkah dan Madinah adalah: (1) melalui teguran langsung, (2) melalui sindiran Rasulullah, (3) pemutusan dari jamaah, dan (4) melalui perbandingan kisah orang-orang terdahulu.
Kurikulum pendidikan Islam pada periode Rasulullah baik di Makkah maupun di Madinah adalah al-Qur'an yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi.

Lembaga pendidikan Islam
Lembaga pendidikan Islam pada fase Makkah ada dua macam tempat, yaitu:
a. Rumah Arqam bin Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum Muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar Islam.
b. .Kuttab. Pendidikan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakan di rumah Arqam ibn Arqam. Pendidikan di rumah Arqam ibn Arqam kandungan materi tentang hukum Islam dan dasar-dasar agama Islam, sedangkan pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Qur'an dan memahami hukum-hukum Islam.

2. Fase Madinah
Kedatangan Nabi Muhammad SAW. bersama kaum Muslimin Makkah, disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka, Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Makkah, lingkungan yang dakwahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wahyu secara beruntun selama periode Madinah kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW. dalam mengajarkan al-Qur'an adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-Qur'an sebagaimana diajarkannya. Beliau sering mengadakan ulangan-ulangan dalam pembacaan al-Qur'an dalam shalat, dalam pidato-pidato, dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain kesempatan.
a. Lembaga pendidikan Islam
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid. Setelah selesai pembangunan masjid, maka Nabi Muhammad SAW. pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya. Demikian pula diantara kaum Muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun tempat tinggalnya sendiri.
Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyariatkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat Jum'at yang dilaksanakan secara berjamaah dan azan. Dengan shalat Jum'at tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung mendengar khutbah dari Nabi Muhammad SAW.
b. Materi pendidikan Islam di Madinah
Pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah:
1) Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum Muslimin.
2) Pendidikan kesejahteraan sosial. terjaminnya kesejahteraan sosial, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok daripada kehidupan sehari-hari. Untuk itu, setiap orang harus bekerja mencari nafkah.
3) Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat.
4) Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum Muslimin merupakan satu state (negara) di bawah bimbingan Nabi Muhammad SAW. yang mempunyai kedaulatan.

A. MASA PENDIDIKAN KHULAFURRASYIDIN
1. Pendidikan di masa Khalifah Abu Bakar As-shiddiq (632-634)
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Berdasarkan hal ini Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi para penberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan memengaruhi orang-orang islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran islam. Banyak umat islam yang gugur dalam perang menumpas para pemberontak di Yamamah, yang terdiri dari sahabat dekat Rasulullah dan para hafiz Al-quran, sehingga memerangi jumlah sahabat yang hafal al-quran. Oleh karna itu, Umar Ibnu Khattab menyarankan pada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat al-quran. Kemudian untuk merealisasikan saran tersebut diutuslah Zaid Bin Abu Bakar masih seperti pada zaman nabi, baik dari materi maupun lembaga pendidikannya.
Dari segi materi pendidikan islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dll.
1. Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
2. Pendidikan akhlaq, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dll. Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan sholat dan puasa, dan haji
3. Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak-gerik dalam sholat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
Menurut Ahmad syalabi, lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asamah Hasan Fahmi mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang pada masa Abu Bakar dan pusat penbelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai pendidik adalah para sahabat rasul yang terdekat. Lembaga pendidikan islam pada masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan islam, sebagai sholat berjam’ah, membaca al-quran dan sebagainya.

2. Pendidikan dimasa Khalifah Umar Bin Khattab (13-23 H: 634-644 M)
Dengan meluasnya wilayah islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlihan, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperlukan keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat islam yang ingin belajar hadis harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan adalah terpusat di Madinah.
Dengan meluasnya wilayah islam sampai keluar wilayah jazirah Arab, tampaknya khalifah memikirkan pendidikan islam di daerah-daerah yang baru ditaklukkan itu. Untuk itu, Umar Bin Khattab memerintahkan para panglima perangnya, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini, khalifah Umar Bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan dikota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan di pasar-pasar serta mengankat dam menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan itu, mereka bertugas mengajarkan isi al-quran danh ajaran islam lainnya, seperti fiqih kepada penduduk yang baru masuk islam.
Diantara sahabat-sahabat nabi yang ditunjuk Umar Bin Khattab kedaerah adalah Abdurrahman Bin Ma’qal dan Imran Bin al-Hashim. Kedua orang ini ditempatkan diBasrah. Abdurrahman Bin Ghanam dikirim ke Syiria dan Hasan Bin Abi Jabalah dikirim ke Mesir. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya. Dari hal itu, bahwa yang menjadi pendidik adalah Umar dan para sahabat-sahabat yang lebih dekat pada rasulullah yang memiliki pengaruh lebih besar, sedangkan pusat pendidikannya selain madinah adalah Mesir, Syria, Basrah.
Meluasnya kekuasaan islam dalam kegiatan pendidikan islam bertambah besar, karena mereka yang menganut agama islam ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung dari nabi. Pada masa ini telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah yang jauh dari Madinah, sebagai pusat ajaran agama islam. Gairah menuntut ilmu ajaran agama islam ini yang kemudian mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin keagamaan.
Pada masa umar Bin Khattab, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis Al Quran dan menghafalnya serta belajar pokok-pokok agama islam. Pendidikan pada masa umar bin khattab ini lebih maju dibanding sebelumnya.


3. Pendidikan di masa khalifah Usman Bin Affan (23-35 H: 644-656 M)
Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak di perbolehkan meninggalkan Madinah di masa kalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Khalifah Usman sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Quran. Penyalinan ini terjadi karena perselisihan dalam bacaan al-Quran. Bedasarkan hal ini, khalifah Usman memerintahkan kepada tim untuk penyalinan tersebut, adapun tim tersebut ialah: Zaid Bin Tsabit, Abdullah Bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa Usman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya dan hanya mengharapkan keridhoan Allah.
Bahwa pada masa khalifah Usman bin Affan tidak banyak terjadi perkembangan pendidikan, kalau dibandingkan dengan masa kekhalifahan Umar Bin Khatab, sebab pada masa khalifah Usman urusan pendidikan diserahkan saja kepada rakyat, dan bila di lihat dari segi kondisi pemerintahan Usman banyak timbul pergolakan dalam masyarakat sebagai akibat ketidaksengajaan mereka terhadap kebijakan Usman yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintahan.

4. Pendidikan di masa Ali Bin Abi Thalib
Sudah kita ketahui bersama bahwa khalifah Ali adalah sahabat terdekat nabi dalam hal ilmu pendidikan sampai ada yang mengatakan kalau Rasulullah adalah gudangnya ilmu sedangkan Ali adalah pintunya/ kuncinya.
Khalifah Alipun masyhur dalam ahli tauhid Islam, peradilan islam, fiqih islam, ilmu tata bahasa arab dan keterampilan menulis dalam bahasa arab (kaligrafi). Adapun menenai ilmu peradilan dan fiqih, riwayat terkenal mengatakan bahwa Ali adalah hakim yang paling ulung di masanya dan paling paham tentang fiqih dan syariat.
Tetapi pada waktu Ali menjabat terjadi kekecauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan ricuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatanpendidikan islam mendapat gangguan dan hambatan. Pada saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat islam. Dengan demikian pola pendidikan pada masa khulafaur rasyidin tidak jauh berbeda dengan masa nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumberpada al-Quran dan Hadis Nabi

POLA PENDIDIKAN DAN PUSAT PENDIDIKAN PADA DINASTI UMMAYAH
Periode dinasti ummayah merupakan masa inkubasi. Pada masa ini peletakan dasar-dasar dari kemajuan pendidikan dimunculkan. Intelektual muslim berkembang pada masa ini.
Pada masa dinasti ummayah pola pendidikan bersifat desentralisasi. Anak memiliki tingkatan dan standar umur. Kajian keilmuan yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kuffah, Mekkah, Madinah, Mesir dan beberapa kota lainnya, seperti ; Basrah dan Kuffah (Irak), damsyik dan Palestina (syam), Fistat (Mesir). Diantara ilmu-ilmu yang perkembangannya yaitu kedokteran, filsafat, astronomi atau perbintangan, sastra, seni baik itu seni bangunan, seni rupa maupun seni suara.
Jadi, pendidikan tidak hanya terpusat di Madinah seperti pada masa Nabi dan Khulafaur rasyidin. Sebenarnya apa yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini sudah ada pada formatnya di masa Khulafaur rasyidin dan Ummayah. Hal ini terlihat pada pola pengajaran dengan sistem Kuttab, tempat anak-anak belajar membaca dan menulis Al-Quran serta ilmu agama islam lainnya. Sistem dengan pola ini bertempat di rumah guru, istana dan masjid.
Dalam memberikan pelajaran dengan sistem Kuttab pada masa Khulafaur rasyidin gurunya tidak di bayar, akan tetapi pada masa ummayah lain lagi ceritanya. Pada periode ini berbagai kemajuan telah diperoleh, termasuk dalam bidang perekonomian.
Ada di antara pengusaha yang membayar atau menggaji gurunya untuk mengajar putranya bahkan disediakan tempat mukim untuk guru di dalam istana. Disamping itu masih ada yang melaksanakan pendidikan dengan cara lama, yaitu belajar di pekarangan di sekitar masjid terutama ini terjadi di kalangan siswa yang belatar belakang ekonomi lemah. Untuk model yang seperti ini guru tidak di bayar sebagaimana sistem Kuttab yang telah di kemukakan sebelumnya, melainkan hanya mendapat penghargaan dari masyarakat semata. Adapun materi ajar adalah baca tulis yang secara umum di ambil dari syair atau sastra arab.
Adapun bentuk pendidikan pada dinasti ummayah diataranya:
1. Pendidikan istana. Pendidikan tidak hanya pengajaran tingkat rendah. Tetapi lanjut kepada tingkat tinggi sebagaimana Halaqah, masjid, dan madrasah. Guru istana dinamakan dengan Muaddib. Tujuan pendidikan istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan bahkan muaddib harus mendidik kecerdasan, hati dan jasmani anak sebagaimana ungkapan Abdul Malik Ibnu Marwan sabagai berikut :
“Ajarkan kepada anak-anak itu berkata benar sebagaimana kau ajarkan Al-Quran. Jauhkan anak-anak itu dari pergaulan orang-orang buruk budi, karna mereka amat jahat dan kurang adab. Jauhkan anak-anak itu pemalu karna pemalu itu merusakkan mereka. Gunting rambut mereka supaya tebal kuduknya. Beri makan merka dengan daging supaya kuat tubuhnya. Ajarkan syair kepada mereka supaya mereka menjadi orang besar dan berani. Suruh mereka menyikat gigi dan minum air dengan menghirup perlahan-lahan bukan dengan bersuara (seperti hewan). Kalau engkau akan mengajarkan adab kepada mereka hendaklah dengan tertutup tiada di ketahui oleh seorang pun “

Adapun rencana pelajaran di istana sebagai berikut:
a. Al-Quran (kitabullah)
b. Hadist-hadist yang termulia
c. Syair-syair yang terhormat
d. Riwayat hukum
e. Menulis, membaca dan lain-lain
2. Nasihat pembesar terhadap muaddib. Sebagaimana pembesar hisyam ibnu Abdul Malik kepada guru anaknya Sulaiman Al-Kalby :
“Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya mataku. Aku serahkan kepada engkau untuk memberi adab kepadanya. Maka, tugas engkau adalah bertaqwa kepada Allah dan menunaikan amanah. Wasiatku yang pertama kepada engkau supaya enkau ajarkan kepadanya kitabullah. Kemudian engkau riwayatkan kepadanya syair-syair yang terbaik. Sesudah itu engkau ajarkan riwayat kaum arab dan syair mereka yang baik. Perlihatkan kepadanya sebagian yang halal dan yang haram serta pidato-pidato dan riwayat peperangan”
3. Badiah.dengan adanya arabisasi, oleh khalifah Abdul Malik Ibnu Marwan. Maka muncullah istilah badiah, yaitu dusun baduwi di padang sahara yang masih fasih bahasa arabnya dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab itu. Akibat dari arabisasi ini muncullah ilmu kowa’it dan cabang ilmu lainnya untuk mempelajari bahasa arab. Bahasa arab ini sudah sampai ke Irak, Syiriah, Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, di samping Saudi Arabia, Yaman, Emirat Arab, dan sekitarnya. Sehinngga banyak yang mengirim anaknya ke badiah untuk belajar bahasa arab bahkan para ulama juga pergi kesana untuk belajar bahasa arab diantaranya: alkhalil ibnu ahmad (160 H atau 776 M). Ia belajar ke Badiah, Hijaz, Nejd dan Tihamah.
4. Perpustakaan. Alhakam Ibnu Nasir (350 H/ 961 M) mendirikan perpustakaan yang besar di qurtubah (cordova).
5. Bamaristan( rumah sakit tempat berobat dab merawat orang serta tempat studi kedokteran). Cucu Mu’awiyah Khalid Ibnu Yazid sangat tertarik pada ilmu kimia kedokteran. Ia menyediakan sejumlah harta dan memerintahkan para sarjana Yunani yang ada di Mesir untuk menerjemahkan kedalam bahasa arab. Hal ini menjadi terjemahan pertama dalam sejarah sehingga al-Walid Ibnu Abdul malik memberikan perhatian terhadap Bamaristan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola pendidikan pada periode dinasti Umaiah ini telah berkembang jika dilihat dari aspek pengajarannya meskipun sistemnya masih sama seperti pada masa nabi dan khulafaurrasyidin. Pada masa ini peradapan islam sudah bersifat internasional yang meliputi tiga benua yaitu sebagian Eropa, Afrika, dan sebagian besar asia yang kesemuanya itu dipersatukan dengan bahasa arab sebagai bahasa asli negara.

KESIMPULAN
Sejarah pendidikan pada masa Rasulaullah menggunakan metode
(1) metode ceramah (2) dialog (3) diskusi atau tanya jawab (4) metode demonstrasi (5) metode eksperimen, metode sosiodrama dan bermain peranan.
Selanjutnya, metode pendidikan akhlak disampaikan Nabi dengan membacakan ayat-ayat al-Quran yang berisi kisah-kisah uamt dahulu kala, supaya diambil pengajaran dan iktibar dari kisah itu.orang yang taat dan patuh mengikuti Rasulullah, akan mendapat kebahagiaan dan orang yang durhaka mendapat siksa, seperti kisah Qarun yang bakhil dan kisah Musa yang berbuat baik kepada putri Su’aib dan lain-lain
Sejarah pendidikan pada masa Khulafaur Ar-Rasyidin dari segi materi pendidikan islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, mengajarkan isi al-quran dan ajaran islam lainnya, seperti fiqih kepada penduduk yang baru masuk islam. pola pendidikan pada masa khulafaur rasyidin tidak jauh berbeda dengan masa nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran dan Hadis Nabi
Diantara ilmu-ilmu yang perkembangannya yaitu kedokteran, filsafat, astronomi atau perbintangan, sastra, seni baik itu seni bangunan, seni rupa maupun seni suara. Dalam memberikan pelajaran dengan sistem Kuttab pada masa Khulafaur rasyidin gurunya tidak di bayar, akan tetapi pada masa ummayah lain lagi ceritanya. Pada periode ini berbagai kemajuan telah diperoleh, termasuk dalam bidang perekonomian.

REFERENSI
Al Aqqad, Abbas Mahmud. 2001. Kejeniusan Abu Bakar Ash Shiddiq. Jakarta: Pustaka Azzam
Nizar, Samsul. 2002. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media
READ MORE - II SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA ROSUL, KHULAFAURRASYIDIN DAN DINASTI BANI UMMAYAH

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Dedhy Irawan Maesycoery

PENDAHULUAN
Sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Definisi ini lebih menekankan pada materi peristiwa tanpa mengaitkan dengan aspek yang lainnya. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, sejarah adalah gambaran masa lalu tentang aktivitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang disusun berdasarkan fakta dan interpretasi terhadap objek peristiwa masa lampau (Gazalba,1981:2).
Sejarah Islam adalah berbagai peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam dalam berbagai aspek. Dalam kaitan ini, maka muncullah berbagai istilah yang biasanya digunakan untuk sejarah itu, di antaranya: Sejarah Islam, Sejarah Kebudayaan Islam, Sejarah Peradaban Islam dan Sejarah Pendidikan Islam (Abuddin Nata,2000:315).
Pendidikan adalah suatu proses pengubahan tingkah laku seseorang ataupun kelompok orang dalam usaha ,mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan peatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedangkan menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam upaya mewujudkan suasana kegiatan belajar dan pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya dalam memperoleh nilai-nilai spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan-keterampilan yang sangat diperlukan bagi dirinya masyarakat, bangsa dan Negara.

PEMBAHASAN
1. Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
Kata sejarah dalam bahasa Arab di sebut Tarikh yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedang menurut istilah berarti “keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada. Atau bisa diartikan sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia . Sedangkan pengertian yang lain sejarah juga mencakup perjalanan hidup manusia dalam mengisi perkembangan dunia dari masa ke masa karena sejarah mempunyai arti dan bernilai sehingga manusia dapat membuat sejarah sendiri dan sejarah pun membentuk manusia . Dalam bahasa Inggris, Sejarah disebut History yang berarti: pengalaman masa lampau dari umat manusia (the past experience of mankind).
Pendidikan Islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik . Karena ia merupakan alat yang dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejateraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.
Pendidikan Islam menurut Zakiah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditunjukkan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis . Dari berbagai pengertian pendidikan islam dapat kita simpulkan bahwa pendidikan islam adalah proses bimbingan dari pendidik yang mengarahkan anak didiknya kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan dan terbentuknya pribadi muslim yang baik.
Dari pengertian sejarah dan pendidikan islam maka dapat dirumuskan pengertian tentang sejarah pendidikan islam atau Tarihut Tarbiyah Islamiyah dalam buku Zuhairini yaitu:
1. Keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya islam sampai dengan masa sekarang.
2. Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan operasionalisasi sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang .
Dra. Hasbullah merumuskan bahwa sejarah pendidikan islam yaitu:
1. Catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari sejak lahirnya sampai sekarang.
2. Suatu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun opersinalisasi sejak zaman nabi Muhammad hingga saat ini .
Dari dua sumber yang merumuskan sejarah pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa kedua penjelasan ini memiliki maksud yang sama yaitu peristiwa atau cabang ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari segi ide, konsep, lembaga operasionalisasi dari sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang.

2. Objek dan Metode Sejarah Pendidikan Islam
A. Objek Sejarah Pendidikan Islam
Objek Sejarah Pendidikan Islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam baik informal, formal, maupun non-formal. Sejalan dengan peranan Agama Islam sebagai dakwah menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, menuju kehidupan yang sejahtera lahir dan bathin (material dan spiritual), namun sebagai cabang ilmu pengetahuan, objek sejarah pendidikan islam umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalam objek-objek sejarah pendidikan, seperti mengenai sifat-sifat yang dimilikinya, dengan kata lain bersifat menjadi “sejarah sebagai subjek” .
B. Metode Sejarah Pendidikan Islam
Mengenai metode sejarah pendidikan islam, walaupun terdapat hal-hal yang sifatnya khusus, berlaku kaidah-kaidah yang ada dalam penulisan sejarah. Kebiasaan dari penelitian dan penulisan sejarah meliputi suatu perpaduan khusus keterampilan intelektual. Sejarahwan harus menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sebenarnya, dan perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi tersebut kedalam kisah yang penuh makna. Sebagai seorang ahli, sejarahwan harus mempunyai sesuatu kerangka berpikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya .
Untuk memahami sejarah pendidikan islam diperlukan suatu pendekatan atau metode yang bisa ditempuh adalah keterpaduan antara metode deskriptif, metode komparatif dan metode analisis sistensis.
1. Metode deskriptif
Dengan metode ini ditunjukan untuk menggambarkan adanya pendidikan islam tersebut, maksudnya ajaran islam sebagai agama samawi yaitu ajaran-ajaran islam yang dibawa oleh Rosulullah saw, yang termaktub dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh As-sunnah, khususnya yang langsung berkaitan dengan pendidikan islam dapat dilukiskan dan dijelaskan sebagaimana adanya. Pada saatnya dengan cara ini maka yang terkandung dalam ajaran islam dapat dipahami.
2. Metode komparatif
Metode ini berusaha membandingkan sebuah perkembangan pendidikan islam dengan lembaga-lembaga islam lainya. Dengan metode ini dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran islam tersebut dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam waktu serta tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan tertentu, sehingga dapat diketahui pula adanya garis-garis tertentu yang menghubungkan pendidikan islam dengan pendidikan yang dibandingkan serta dapat diajukan pemecahan yang mungkin apabila keduanya terjadi kesenjangan.
3. Metode analisis sintesis.
Yaitu dengan melihat sosok pendidikan islam secara lebih kritis, ada analisis dan bahasan yang luas serta ada kesimpulan yang spesifik, dengan demikian akan tampak kelebihan dan kekhasan pendidikan islam. Hal itu akan lebih jelas dengan adanya pendekatan sintesis yang dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan yang diambil guna memperoleh suatu keutuhan dan kelengkapan kerangka pencapaian tujuan serta manfaat penulisan Sejarah Pendidikan Islam. Selain itu juga dapat digunakan untuk memberikan analisis terhadap istilah-istilah atau pengertian-pengertian yang diberikan ajaran islam secara kritis, sehingga menunjukkan kelebihan dan kekhasan pendidikan islam.. Metode ini dapat pula didayagunakan untuk kepentingan proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia yang islami
Selain ketiga metode tersebut, juga dapat menggunakan metode lisan, observasi, dan juga documenter dalam penggalian dan penulisan sejarah pendidikan islam, antaranya:
1. Metode lisan, dengan metode ini pelacakan suatu objek sejarah dengan menggunakan interview.
2. Metode Observasi, dalam hal ini objek sejarah diamati secara langsung.
3. Metode Dokumenter, dimana dengan metode ini berusaha mempelajarinya secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis.

3. Manfaat / Kegunaan Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam
Dengan mengkaji sejarah akan bisa memperoleh informasi tentang pelaksanaan pendidikan islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran, dan kebangkitan kembali tentang pendidikan islam. Dari sejarah dapat diketahui segala sesuatu yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan islam dengan segala ide, konsep, intitusi, sistem, dan operasionalisnya yang terjadi dari waktu ke waktu, jadi sejarah pada dasarnya tidak hanya sekedar memberikan romantisme tetapi lebih dari itu merupakan refleksi historis. Dengan demikian belajar sejarah pendidikan islam dapat memberikan semangat (back projecting theory) untuk membuka lembaran dan mengukir kejaya dan kemajuan pendidikan islam yang baru dan lebih baik. Dengan demikian sejarah pendidikan islam sebagai study tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah pendidikan sudah barang tentu sangat bermanfaat terutama dalam rangka memberikan sumbangan bagi pertumbuhan atau perkembangan pendidikan .
Manfaat / kegunaan mempelajari sejarah pendidikan islam dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Bersifat umum
Secara umum sejarah memegang peranan penting bagi kehidupan umat manusia. Hal ini karena sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi pertumbuhan serta perkembangan kehidupan umat manusia. Sumber utama ajaran Islam (Al-Qur’an) mengandung cukup banyak nilai-nilai kesejarahan yang langsung dan tidak langsung mengandung makna benar, pelajaran yang sangat tinggi dan pimpinan utama khususnya umat islam. Ilmu tarikh (sejarah) dalam islam menduduki arti penting dan berguna dalam kajian dalam islam. Oleh karena itu kegunaan sejarah pendidikan meliputi dua aspek yaitu kegunaan yang bersifat umum dan yang bersifat akademis .
Sejarah pendidikan islam memiliki kegunaan tersendiri diantaranya sebagai faktor keteladanan, cermin, pembanding, dan perbaikan keadaan. Sebagai faktor keteladanan dapat dimaklumi karena al-Qur’an sebagai sumber ajaran islam banyak mengandung nilai kesejarahan sebagai teladan. Hal ini tersirat dalam Al-Qur’an, yaitu diantaranya :
a. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab : 21, yang memiliki arti
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada teladan yang baik bagi kamu sekalian”.
b. Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran : 31, yang memiliki arti :
“Katakana olehmu (Muhammad) jika kamu sekalian cinta kepada Allah, maka hendaklah ikut akan daku, niscaya Allah cinta kepada kamu”.
c. Dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf : 158, yang memiliki arti :
“Dan hendaklah kamu mengikuti akan di (Muhammad) supaya kamu mendapat petunjuk”.
Berpedoman pada ayat diatas umat islam dapat meneladani proses pendidikan islam semenjak zaman kerasulan Muhammad saw, Khulafaur Rasyidin, ulama-ulama besar dan para pemuka gerakan pendidikan islam.
Sebagai cermin ilmu sejarah berusaha menafsirkan pengalaman masa lampau manusia dalam berbagai kegiatan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan bahwa tidak semua kagiatan manusia berjalan mulus terkadang menemukan rintangan-rintangan tertentu sehingga dalam proses kegiatannya mendapat sesuatu yang tidak diharapkan, maka kita perlu bercermin atau dengan kata lain mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian masa lampau sehingga ilmu tarikh itu bagi masa sekarang dapat menjadi cermin dan dapat diambil manfaatnya, khususnya bagi perkembangan pendidikan islam.
Sebagai pembanding, suatu peristiwa yang berlangsung dari masa ke masa tentu memiliki kesamaan dan kekhususan. Dengan demikian hasil proses pembanding antara masa silam, sekarang, dan yang akan datang diharapkan dapat memberi andil bagi perkembangan pendidikan islam karena sesungguhnya tarikh itu menjadi cermin perbandingan bagi masa yang baru.
Sebagai perbaikan, setelah berusaha menafsirkan pengalaman masa lampau manusia dalam berbagai kegiatan kita berusaha pula untuk memperbaiki keadaan yang sebelumnya kurang konstruktif menjadi lebih konstruktif .
2. Bersifat Khusus
Adapun kegunaan sejarah pendidikan islam yang bersifat akademis diharapkan dapat :
1. Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang.
2. Mengambil manfaat dari proses pendidikan islam, guna memecahkan problematika pendidikan islam pada masa kini.
3. Memiliki sikapn positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan islam.
Selain itu sejarah pendidikan islam akan mempunyai kegunaan dalam rangka pembangunan dan pengembangan pendidikan islam. Dalam hal ini, sejarah pendidikan islam akan memberikan arah kemajuan yang pernah dialami sehingga pembangunan dan pengembangan itu tetap berada dalam kerangka pandangan yang utuh dan mendasar .
 Pentingnya dalam Mempelajari Sejarah Pendidikan
Islam
Dari mengkaji sejarah kita dapat memperoleh informasi tentang pelaksaan pendidikan islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kemunduran dan kebangkitan kembali dari pendidikan islam. Dari sejarah dapat diketahui bagaimana yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan islam dengan segala ide, konsep, institusi, sistem, dan opersionalnya yang terjadi dari waktu ke waktu .
Dalam ajaran islam, pendidikan mendapatkan posisi yang sangat penting dan tinggi karena pendidikan merupakan salah satu perhatian sentral (central attention) masyarakat. Pengalaman pembangunan di negara-negara sudah maju khususnya negara-negara di dunia Barat membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.
Tepatnya dikatakan oleh Ghulam nabi Saqib Education may be used to help modernize a society, education, therefore is certainly the key to the modernization of muslim societies. Demikian juga tepat dapat dikatakan Jhon Dewey, pendidikan diartikan sebagai social continuty of life. Pendidikan juga diartikan, it mo kowly as transmission from some persons to others of the skills the arts and the science. Adapun Kant, mengartikan pendidikan sebagai care, discipline and instruction.
Oleh karena itu, peranan pendidik sangat penting dan pendidikan hendaknya memenuhi kebutuhan masyarakat .

4. Ilmu-ilmu yang Berkaitan dengan Sejarah Pendidikan Islam.
Sejarah Pendidikan Islam bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, ia merupakan bagian dari sejarah pendidikan secara umum. sejarah pendidikan menguraikan perkembangan pendidikan dari dahulu hingga sekarang. Karena itu Sejarah Pendidikan Islam erat kaitanya dengan ilmu-ilmu lain, seperti:
1. Sosiologi
Kita bisa menyaksikan bahwa interaksi yang terjadi, baik antar individu maupun antar golongan, dimana dalam hal ini menimbulkan suatu dinamika. Dinamika dan perubahan tersebut bermuara pada terjadinya mobilitas social, semua itu berpengaruh pada system pendidikan Islam serta kebijaksanaan Pendidikan Islam yang dijalankan pada suatu masa.
2. Ilmu Sejarah
Karena ia membahas tentang perkembangan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian penting di masa lampau, dan juga di bahas sebagai ihwal “orang-orang besar” dalam struktur kekuasaan dan politik, karena umumnya orang-orang besar cukup dominan pengaruhnya dalam menentukan system, materi, tujuan pendidikan yang berlaku pada masa itu.
3. Sejarah Kebudayaan
Sejarah pendidikan merupakan bagian sejarah kebudayaan umat manusia, karena mendidik itu berarti pula suatu usaha untuk menyerahkan atau mewariskan kebudayaan. Dalam hal ini pendidikan berarti pemindahan isi kebuayaan untuk menyempunakan segala kecakapan anak didik guna menghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan kebudayaan.
Begitu juga dengan Sejarah Pendidikan Islam, kita mengetahui bahwa pendidikan Islam adalah usaha mewariskan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Oleh karena itu mempelajari sejarah kebuadayaan dalam rangka memahami sejarah Islam adalah sangat penting.

5. Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam
Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam 3 periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi lima masa, yaitu:
1. Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M)
2. Masa khalifah yang empat (khulafaur Rasyidin; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; (632-661)
3. Masa kekuasaan Umaiyah di Damsyik (661-750 M)
4. Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M )
5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M dampai sekarang.

1. Periode Klasik ( 650-1250 M )
Dalam periode klasik ini dapat pula dibagi menjadi dua masa, yaitu masa kemajuan islam I dan masa Disintegrasi.
A. Masa Kemajuan Islam I ( 650 – 1000 M )
Masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan keemasan islam. Dalam hal ekspansi, sebelum Nabi Muhammad wafat di tahun 632 M. Seluruh semenanjung arabia telah tunduk kebawah kekuasaan islam. Ekspansi ke daerah-daerah di luar Arabia dimulai dizaman Khalifah pertama, yaitu Abu Bakar As-Siddik. Di masa pemerintahan khulafaur rosyidin ( Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali ) inilah terjadi ekspansi, integrasi, dan juga keemasan islam.
B. Masa Disintegrasi ( 1000 – 1250 M )
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi pada akhir zaman Bani Umayyah, tetapi memuncak pada bani Abbas terutama setelah kholifah-kholifah. Disintegrasi politik ini terjadi dalam lapangan kebudayaan dan juga lapangan agama. Perpecahan dikalangan umat Islam menjadi besar, karena adanya daerah-daerah yang berdiri sendiri, disamping itu Bagdad telah timbul pusat-pusat kebudayaan lain, terutama Cairo di Mesir, Cordova di Spanyol, Asfahan, Bukhara dan Samarkand di Timur. Dengan munculnya pusat-pusat kebudayaan baru ini, terutama yang berada di bawah kekuasaan Persia, bahasa Persia meningkat menjadi bahasa kedua di dunia Islam .

2. Periode Pertengahan
Periode ini dapat dibagi menjadi dua masa, masa kemunduran I dan masa tiga kerajaan besar.
A. Masa Kemunduran I
Kemunduran dimasa ini terjadi karena adanya desentralisasi dan disintegrasi dalam dunia Islam yang semakin meningkat. Di zaman ini juga hancurnya khilafah secara formil. Islam tidak lagi mempunyai khalifah, yang diakui oleh semua umat Islam sebagai lambang persatuan dan ini berlaku sampai kerajaan Usmani mengangkat kerajaan yang baru di Istambul pada abad keenambelas. Bagian yang merupakan pusat dunia Islam, jatuh ke tangan bukan Islam untuk beberapa waktu. Dan terlebih dari itu, Islam hilang dari Spanyol
B. Masa Tiga Kerajaan Besar ( 1500-1800 M )
Pada masa ini dapat pula dibagi kedalam dua fase, fase kemajuan dan fase kemunduran.
a. Fase Kemajuan ( 1500-1700 M )
Fase kemajuan ini merupakan kemajuan Islam II. Kemajuan Islam II ini lebih banyak merupakan kemajuan dalam bidang politik. Selain itu juga dibangunnya tempat ibadah seperti masjid Aya Sofia, yang pada mulanya adalah gereja yang kemudian dirobohkan dan dijadikan sebuah masjid. Terdapatnya gedung-gedung bersejarah, yaitu Taj Mahal, Benteng Merah, Jama Masjid, istana-istana dan gedung-gedung pemerintahan di Dhelhi.
b. Fasa Kemunduran II ( 1700-1800 M )
Kemunduran disini terjadi karena timbulnya pemberontakan-pemberontakan, seperti di Suria dan Lebanon. Selain itu di Persia, kerajaan Safawi juga mendapat serangan dari Raja Afghan. Dimasa ini kekuatan militer dan politik menurun. Dagang dan ekonomi umat Islam, dengan hilangnya monopoli dagang antara Timur dan Barat dari tangan mereka, jatuh. Begitu pula dalam bidang ilmu pengetahuan, saat itu ilmu pengetahuan tidak banyak mengalami perkembangan. Saat itulah dunia islam dalam keadaan mundur dan statis.

3. Periode Modern 1800 M
Periode ini merupakan zaman kebangkitan islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir yang berakhir di tahun 1801 M, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan balance of Power. Kontak Islam dengan Barat sekarang berlainan sekali dengan kontak Islam dengan Barat diperiode Klasik. Pada saat itu Barat dalam keadaan kegelapan, sekarang sebaliknya Islam sedang dalam masa kegelapann dan kini Islamlah yang banyak belajar dari bangsa Barat.
Dengan demikian timbullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran bagaimana
caranya membuwat umat Islam maju kembali seperti pada masa periode klasik.

KESIMPULAN
Sejarah Pendidikan Islam adalah peristiwa atau cabang ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari segi ide, konsep, lembaga operasionalisasi dari sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang atau catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam sejak lahirnya hingga sekarang ini Manfaat Sejarah Pendidikan Islam adalah sebagai faktor keteladanan, Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang
Manfaat Sejarah Pendidikan Islam adalah sebagai faktor keteladanan, mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang, dapat mengetahui periodesasi sejarah Islam pada masa dahulu, mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam guna memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini, memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan system pendidikan Islam.

REFERENSI
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992
Harun Nasution , Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jakarta: Universitas Indonesia, 1985
Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1997
Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2001
A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Garfindo Persada, 1995.
Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangan, Jakarta: logos Wacana Ilmu, 1999
Maryam, Siti, dkk., Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogjyakarta: Jur. SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kali Jaga bekerja sama dengan LESFI, 2003
READ MORE - I SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

SURABAYA

2009

TRISMA'S 2008

TRISMA'S 2008
Soeve Yoed, Ibnoe Mz

Pengikut

Ibnoe Maesycoery13. Diberdayakan oleh Blogger.